Blog

  • Mengapa Hati Tidak Tenang Menurut Islam? Ini 1 Cara Mengatasi Penyebabnya

    Mengapa Hati Tidak Tenang Menurut Islam?

    Pernahkah Anda merasa gelisah tanpa alasan yang jelas?

    Semua terlihat baik-baik saja. Pekerjaan berjalan, keluarga sehat, kebutuhan terpenuhi. Namun entah mengapa hati tetap terasa sempit, cemas, dan seperti ada sesuatu yang hilang.

    Sebagian orang menggambarkannya sebagai perasaan kosong. Sebagian lainnya menyebutnya seperti ada “lubang di hati” yang tidak bisa diisi oleh apa pun.

    Ketika kondisi ini berlangsung lama, banyak orang mulai bertanya, mengapa hati terasa tidak tenang?

    Pertanyaan ini sebenarnya sudah dijawab oleh Islam sejak berabad-abad lalu. Bahkan Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketenangan hati bukan hanya soal kondisi fisik atau keadaan ekonomi, tetapi berkaitan erat dengan hubungan seorang hamba dengan Allah SWT.

    Baca Juga : WAJIB TAHU! Ayat Tentang Sedekah Jariyah yang Pahalanya Terus Mengalir

    Apa Itu Was-Was dalam Islam?

    mengapa hati tidak tenang menurut islam
    Ilustrasi merasa cemas – Generated By AI

    Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah was-was.

    Secara bahasa, was-was berasal dari bahasa Arab yang berarti bisikan-bisikan halus.

    Di dalam Al-Qur’an, kata was-was digunakan untuk menggambarkan bisikan setan yang masuk ke dalam hati manusia dengan tujuan menjauhkan manusia dari jalan Allah.

    Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nas tentang setan yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia.

    Karena itu, ketika membahas mengapa hati tidak tenang menurut Islam, salah satu penyebab yang perlu diperhatikan adalah adanya bisikan-bisikan negatif yang terus menerus mempengaruhi pikiran dan hati seseorang.

    Bisikan tersebut bisa berupa:

    • Ketakutan berlebihan terhadap masa depan.
    • Kekhawatiran tentang rezeki.
    • Perasaan tidak cukup.
    • Merasa tidak berharga.
    • Merasa hidup selalu kurang.

    Jika terus dibiarkan, bisikan ini dapat berkembang menjadi kecemasan yang mengganggu kehidupan sehari-hari.

    Ciri-Ciri Hati yang Sedang Diliputi Kecemasan

    Menurut penjelasan medis, kondisi ini sering disebut anxiety atau gangguan kecemasan.

    Beberapa tanda yang umum muncul antara lain:

    • Gugup dan gelisah.
    • Jantung berdebar lebih cepat.
    • Napas terasa pendek.
    • Sulit tidur.
    • Tubuh mudah lelah.
    • Sulit fokus.
    • Banyak berkeringat.
    • Merasa akan ditimpa sesuatu yang buruk.

    Gejala-gejala tersebut dapat dialami siapa saja.

    Namun ketika mencari jawaban atas pertanyaan mengapa hati terasa tidak tenang, kita tidak hanya melihat gejalanya, tetapi juga akar penyebabnya.

    Penyebab Was-Was yang Sering Tidak Disadari

    mengapa hati tidak tenang menurut islam

     

    Banyak orang sudah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan kecemasan.

    Ada yang berlibur.

    Ada yang mencari hiburan.

    Ada yang membeli berbagai hal yang disukai.

    Tetapi ketenangan yang diperoleh hanya bertahan sebentar.

    Mengapa?

    Karena penyebab utama kegelisahan sering kali bukan berasal dari luar, tetapi dari dalam hati.

    Menurut para ulama, salah satu penyebab terbesar mengapa hati tidak tenang menurut islam adalah karena hati mulai jauh dari Allah SWT.

    Ketika seseorang terlalu sibuk memikirkan dunia, tetapi jarang mengingat Allah, maka hati kehilangan sumber ketenangannya.

    Allah SWT berfirman:

    “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

    Ayat ini menjadi jawaban paling kuat atas pertanyaan mengapa hati tidak tenang menurut Islam.

    Karena hati memang diciptakan untuk mengenal dan mengingat Allah.

    Cara Menghilangkan Was-Was dan Kecemasan dalam Hati

    mengapa hati tidak tenang menurut islam
    Ilustrasi Al-Qur’an dan Air – Generate by AI

    Setelah memahami penyebabnya, langkah berikutnya adalah mencari solusi.

    1. Perbaiki Hubungan dengan Allah

    Saat hati mulai gelisah, jangan hanya mencari solusi di luar diri.

    Cobalah kembali memperbaiki hubungan dengan Allah melalui shalat, dzikir, dan membaca Al-Qur’an.

    Banyak orang menemukan ketenangan setelah rutin menjaga shalat tepat waktu.

    2. Perbanyak Istighfar

    Istighfar memiliki pengaruh besar dalam membersihkan hati.

    Selain menghapus dosa, istighfar membantu hati menjadi lebih ringan dan lapang.

    3. Perbanyak Berkumpul di Lingkungan yang Baik

    Lingkungan sangat mempengaruhi kondisi hati.

    Berada di sekitar masjid, majelis ilmu, dan orang-orang saleh sering kali membantu seseorang keluar dari rasa gelisah yang berkepanjangan.

    Tidak sedikit masyarakat yang merasakan ketenangan ketika terlibat dalam aktivitas sosial dan keagamaan di lingkungan masjid. Salah satunya melalui program-program yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire.

    Kunjungi Instagram Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire disini : @baitulmaalmuslimbillionaire

    Selain menjadi sarana berbagi kepada sesama, keterlibatan dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan kemasjidan sering kali membantu seseorang merasakan hidup yang lebih bermakna dan hati yang lebih tenang.

    Amalan yang Pernah Dianjurkan Syeikh Ali Jaber untuk Mengatasi Was-Was

    Almarhum Syeikh Ali Jaber pernah menyampaikan salah satu amalan yang dapat dilakukan ketika hati diliputi kecemasan dan was-was.

    Caranya adalah dengan menyiapkan air minum, kemudian membacakan:

    • Surah Al-Fatihah 7 kali
    • Lima ayat pertama Surah Al-Baqarah
    • Ayat Kursi 7 kali
    • Tiga ayat terakhir Surah Al-Baqarah
    • Surah Al-Ikhlas 3 kali
    • Surah Al-Falaq 3 kali
    • Surah An-Nas 3 kali

    Setelah itu air diminum sambil memohon pertolongan kepada Allah SWT.

    Tentu yang memberikan kesembuhan bukan air tersebut, melainkan Allah yang Maha Menyembuhkan.

    Amalan ini menjadi salah satu bentuk ikhtiar spiritual ketika seseorang sedang berusaha mencari ketenangan hati.

    Sedekah Juga Bisa Menenangkan Hati

    Salah satu amalan yang sering direkomendasikan para ulama ketika hati sedang sempit adalah sedekah.

    Mengapa?

    Karena sedekah membantu mengurangi keterikatan hati terhadap dunia.

    Saat seseorang membantu orang lain, muncul rasa syukur dan kebahagiaan yang sering kali tidak bisa dibeli dengan harta.

    Melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire, masyarakat dapat menyalurkan sedekah untuk berbagai program sosial, pendidikan, kemanusiaan, dan pengembangan masjid.

    Selain membantu sesama, sedekah yang digunakan untuk mendukung kegiatan masjid dan program umat juga berpotensi menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir bahkan setelah seseorang meninggal dunia.

    Banyak orang justru menemukan ketenangan hati ketika mereka mulai lebih banyak memberi daripada menerima.

    Jika selama ini Anda bertanya mengapa hati tidak tenang menurut Islam, maka jawabannya sering kali berkaitan dengan kondisi hati yang mulai jauh dari Allah SWT.

    Was-was, kecemasan, dan kegelisahan bukan hanya persoalan pikiran, tetapi juga persoalan ruhani yang membutuhkan pendekatan spiritual.

    Karena itu, selain menjaga kesehatan fisik dan mental, seorang Muslim juga perlu memperkuat hubungan dengan Allah melalui dzikir, shalat, istighfar, membaca Al-Qur’an, serta memperbanyak amal saleh.

    Salah satu bentuk amal yang dapat membantu menenangkan hati adalah sedekah dan kontribusi untuk kemakmuran masjid melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire. Dengan mendukung berbagai program sosial, pendidikan, dan kegiatan umat, seseorang tidak hanya membantu orang lain, tetapi juga menanam investasi akhirat berupa pahala jariyah yang terus mengalir.

    Semoga Allah SWT menjadikan hati kita hati yang tenang, lapang, dan selalu terhubung dengan-Nya dalam setiap keadaan. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • MB Farm Agrowisata Resmikan Aquaponik, Inovasi Budidaya Ikan dan Sayuran yang Dikelola Santri

    Bogor, 12 Juni 2026 – MB Farm Agrowisata resmi meluncurkan sistem Aquaponik sebagai inovasi terbaru dalam bidang pertanian dan perikanan yang dikelola oleh santri Pondok CEO, Masjid Muslim Billionaire. Peresmian ini dilaksanakan pada Kamis, 11 Juni 2026 dan menjadi langkah baru dalam pengembangan sektor agrowisata, edukasi, serta pemberdayaan santri melalui unit usaha produktif.

    Kegiatan launching tersebut dihadiri oleh sekitar 50 peserta yang terdiri dari para leader Masjid Muslim Billionaire, Buya Kardi selaku Pimpinan Cabang Masjid Muslim Billionaire Purwakarta dan Insan Masjid Muslim Billionaire. Acara berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 10.30 WIB dan ditutup dengan penebaran 20 bibit ikan nila serta sesi foto bersama.

    MB Farm Agrowisata merupakan salah satu unit usaha yang berada di bawah pilar Baitul Muamalah atau Muslim Billionaire Tijaroh Center (MBTC). Unit usaha ini bergerak di bidang pertanian, perikanan, serta Mini Zoo Qur’ani yang seluruh pengelolaannya dijalankan oleh santri-santri Pondok CEO, Masjid Muslim Billionaire.

    Perjalanan MB Farm sendiri dimulai sekitar empat tahun yang lalu, beriringan dengan pembangunan Masjid Muslim Billionaire. Saat itu, kawasan yang kini menjadi MB Farm masih berupa lahan kosong yang dipenuhi ilalang setinggi kurang lebih satu setengah meter. Dari lahan sederhana tersebut, proses pembangunan dan kaderisasi santri terus berjalan hingga akhirnya berkembang menjadi kawasan produktif yang memberikan manfaat dalam bidang pertanian, perikanan, edukasi, dan agrowisata.

    Baca Juga : TERUNGKAP!! Teknologi Pertanian Modern Berdampak yang Digunakan untuk Menggemburkan Tanah Pertanian – Cara MB Farm Mewujudkan Agrowisata Qur’ani Berdaya

    Dalam proses pengembangannya, Ustadz Beben Wahyudi selaku Pimpinan Masjid Muslim Billionaire memberikan amanah kepada Ustadz Wahyu untuk memimpin MB Farm Agrowisata. Menariknya, Ustadz Wahyu merupakan Santri Pondok CEO angkatan pertama yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang khusus di bidang pertanian maupun pengelolaan lahan. Namun melalui proses kaderisasi, pembinaan, serta bimbingan para guru, beliau dipercaya untuk mengembangkan unit usaha tersebut hingga terus bertumbuh sampai hari ini.

    Salah satu hasil pengembangan terbaru tersebut adalah hadirnya sistem Aquaponik yang dibangun selama kurang lebih satu bulan bersama tim MB Farm dan para mentor.

    Kang Teguh – Mentor daripada MB Farm Agrowisata

    Dalam sesi sambutannya, Kang Teguh selaku mentor MB Farm Agrowisata menjelaskan bahwa aquaponik merupakan sistem yang menggabungkan budidaya ikan dan tanaman dalam satu ekosistem yang saling menguntungkan.

    “Aquaponik adalah sebuah simbiosis mutualisme dari siklus penanaman tumbuhan secara hidroponik dan perkembangan ikan melalui aquakultur,” ujar Kang Teguh.

    Pada sistem yang dibangun di MB Farm, tanaman pakcoy ditanam menggunakan metode hidroponik pada instalasi paralon yang berada di atas kolam ikan. Air yang mengandung nutrisi dari kotoran ikan nila dialirkan menuju tanaman sebagai pupuk alami. Setelah melalui proses penyaringan oleh akar tanaman, air kembali mengalir ke kolam sehingga membantu menjaga kualitas air bagi ikan.

    Melalui sistem ini, tanaman dan ikan saling memberikan manfaat satu sama lain. Tanaman memperoleh nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh, sementara ikan mendapatkan kualitas air yang lebih baik serta suplai oksigen dari sirkulasi air yang terus bergerak.

    Selain menghasilkan dua komoditas sekaligus, yaitu sayuran dan ikan, sistem aquaponik juga memiliki sejumlah keunggulan. Di antaranya penggunaan daya listrik yang relatif rendah, proses budidaya yang lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan pestisida maupun bahan kimia tambahan, serta pertumbuhan tanaman yang lebih cepat dibandingkan metode konvensional.

    Kehadiran aquaponik menjadi langkah baru bagi MB Farm Agrowisata dalam mengembangkan fungsi edukasi kepada masyarakat. Pengunjung dapat melihat secara langsung bagaimana proses simbiosis antara tanaman dan ikan bekerja dalam satu sistem terpadu. Hal ini diharapkan dapat menjadi sarana pembelajaran yang menarik bagi masyarakat yang ingin mengenal konsep pertanian modern yang efisien dan berkelanjutan.

    Ke depan, MB Farm juga memiliki visi yang lebih besar dalam pengembangan sektor pertanian. Salah satu target yang sedang dipersiapkan adalah pengelolaan lahan seluas 1,5 hektar di Purwakarta yang direncanakan menjadi pondok pertanian berbasis edukasi dan kaderisasi.

    Melalui berbagai inovasi yang terus dikembangkan, MB Farm berharap dapat menjadi inspirasi bagi pertanian dan perikanan berbasis pesantren di Indonesia, sekaligus mendukung kemandirian ekonomi Masjid Muslim Billionaire melalui unit-unit usaha yang produktif dan berkelanjutan.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Apa Saja Perbedaan Puasa Asyura dan Tasua? Yuk Cari Tau Disini

    Perbedaan Puasa Asyura dan Tasua yang Perlu Dipahami Umat Islam

    Menjelang datangnya bulan Muharram, banyak umat Islam mulai mencari informasi tentang perbedaan puasa Asyura dan Tasua. Kedua puasa sunnah ini memang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ dan menjadi salah satu amalan terbaik yang bisa dilakukan pada awal tahun Hijriyah.

    Meski sering disebut bersamaan, masih banyak orang yang mengira puasa Asyura dan Tasua adalah ibadah yang sama. Padahal, terdapat beberapa perbedaan puasa Asyura dan Tasua yang perlu diketahui, mulai dari waktu pelaksanaan, niat, hingga hikmah di balik pelaksanaannya.

    Dengan memahami perbedaan puasa Asyura dan Tasua, seorang Muslim dapat menjalankan kedua ibadah sunnah ini dengan lebih baik serta memperoleh keutamaan yang dijanjikan Allah SWT.

    Mengapa Puasa Muharram Begitu Istimewa?

    Sebelum membahas lebih jauh tentang perbedaan puasa Asyura dan Tasua, penting untuk memahami keutamaan bulan Muharram terlebih dahulu.

    Baca Juga : Keutamaan Puasa Asyura dan Tasu’a: Amalan Istimewa di Bulan Muharram yang Jangan Dilewatkan

    Bulan Muharram merupakan salah satu bulan dari 4 bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT. Bulan ini memiliki banyak keistimewaan dan menjadi waktu yang sangat dianjurkan untuk memperbanyak amal saleh.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)

    Hadits ini menunjukkan bahwa bulan Muharram memiliki kedudukan istimewa dalam Islam.

    Karena itu, tidak mengherankan jika banyak ulama menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak puasa sunnah selama bulan Muharram, terutama puasa Tasua dan Asyura.

    Perbedaan Puasa Asyura dan Tasua dari Segi Waktu Pelaksanaan

    perbedaan puasa asyura dan tasua

    Perbedaan pertama dan paling mendasar dalam perbedaan puasa Asyura dan Tasua adalah waktu pelaksanaannya.

    Puasa Tasu’a

    Puasa Tasu’a dilaksanakan pada tanggal 9 Muharram.

    Nama Tasu’a berasal dari kata Arab “tis’ah” yang berarti sembilan.

    Puasa Asyura

    Puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

    “Asyarah” merupakan asal kata dari Asyura yang artinya 10 dalam bahasa arab

    Inilah perbedaan puasa Asyura dan Tasu’a yang paling mudah dikenali.

    Meskipun berbeda hari, kedua puasa ini sangat dianjurkan untuk dilakukan secara berurutan agar lebih sesuai dengan tuntunan Rasulullah ﷺ.

    Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

    Hadits ini menjadi dasar anjuran untuk menggabungkan puasa Tasu’a dan Asyura.

    Perbedaan Puasa Asyura dan Tasua dari Segi Niat

    perbedaan puasa asyura dan tasua

    Selain waktu pelaksanaan, perbedaan puasa Asyura dan Tasu’a juga terletak pada niat yang dibaca.

    Niat Puasa Tasu’a

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ يَوْمِ تَاسُوعَاءَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Latin:

    Nawaitu shauma ghadin min yaumi tasuu’aa-in sunnatan lillaahi ta’aalaa.

    Artinya:

    “Saya niat berpuasa sunnah hari Tasua esok hari karena Allah Ta’ala.”

    Niat Puasa Asyura

    نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ يَوْمِ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Latin:

    Nawaitu shauma ghadin min yaumi ‘aasyuuraa-a sunnatan lillaahi ta’aalaa.

    Artinya:

    “Saya niat berpuasa sunnah hari Asyura esok hari karena Allah Ta’ala.”

    Dari sini terlihat bahwa perbedaan puasa Asyura dan Tasua hanya terletak pada penyebutan nama puasanya, sedangkan tujuan utamanya tetap sama, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

    Baca Juga : Kapan Puasa Tasua dan Asyura Tahun Ini? Cek Jadwal Resmi 2026

    Perbedaan Puasa Asyura dan Tasua dari Segi Hikmah

    perbedaan puasa asyura dan tasua

    Salah satu perbedaan puasa Asyura dan Tasua yang menarik untuk dipahami adalah hikmah pelaksanaannya.

    Puasa Asyura memiliki kaitan erat dengan peristiwa diselamatkannya Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.

    Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura.

    Mereka menjelaskan bahwa hari tersebut adalah hari kemenangan Nabi Musa AS atas Fir’aun.

    Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”

    Setelah mengatakan hal tersebut nabi langsung memerintahkan para sahabat untuk melaksanakan puasa Asyura sebagai bentuk mengimani serta memuliakan Nabi Musa AS.

    Baca Juga : Apa Saja Peristiwa di Bulan Muharram? 7 Kisah Bersejarah yang Jarang Diketahui

    Sedangkan puasa Tasua dilaksanakan sebelum puasa asyura adalah sebagai tanda pembeda dengan puasa para kaum yahudi yang juga mengerjakan puasa pada hari asyura atau 10 Muharram.

    Inilah salah satu hikmah utama dalam perbedaan puasa Asyura dan Tasua yang dijelaskan oleh para ulama.

    Mana yang Lebih Utama, Puasa Asyura atau Tasua?

    Ketika membahas perbedaan puasa Asyura dan Tasua, muncul pertanyaan tentang mana yang lebih utama.

    Mayoritas ulama menjelaskan bahwa puasa Asyura memiliki keutamaan yang lebih besar karena secara khusus disebutkan dalam hadits tentang penghapusan dosa setahun yang lalu.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

    Namun bukan berarti puasa Tasua tidak penting.

    Puasa Tasua justru menjadi pelengkap yang menyempurnakan puasa Asyura sehingga kedua amalan tersebut sangat dianjurkan untuk dilakukan bersamaan.

    Baca Juga : Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa Tasua? Ini Penjelasan Ulama dan Hukumnya

    Di tengah semangat menjalankan ibadah pada bulan Muharram, umat Islam juga dapat memperbanyak amal sosial dengan bersedekah melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire.

    Lembaga ini memiliki berbagai program aktif setiap bulan seperti Pasar Bahagia, Festival Yatim Bahagia, Gerakan Gizi Santri, Majelis Botram, Mengaji itu Mudah, santunan yatim, bantuan dhuafa, program pendidikan Islam, dan program kemasyarakatan lainnya.
    Cek : @baitulmaalmuslimbillionaire

    Bolehkah Hanya Puasa Asyura Saja?

    Masih berkaitan dengan perbedaan puasa Asyura dan Tasua, sebagian orang bertanya apakah boleh hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja.

    Menurut mazhab Syafi’i dan banyak ulama lainnya, puasa Asyura saja tetap diperbolehkan dan tetap mendapatkan pahala sunnah.

    Namun jika memungkinkan, lebih utama menggabungkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram agar lebih sesuai dengan anjuran Rasulullah ﷺ.

    Jika tidak sempat berpuasa tanggal 9, sebagian ulama juga menganjurkan berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram.

    Cara Mengoptimalkan Ibadah di Bulan Muharram

    Selain memahami perbedaan puasa Asyura dan Tasua, ada beberapa amalan lain yang dapat dilakukan selama bulan Muharram.

    1. Memperbanyak Istighfar

    Muharram adalah waktu yang baik untuk memulai tahun baru dengan taubat.

    2. Membaca Al-Qur’an

    Perbanyak tilawah dan tadabbur Al-Qur’an.

    3. Bersedekah

    Sedekah menjadi salah satu amal yang sangat dianjurkan pada bulan-bulan mulia.

    4. Menjaga Silaturahmi

    Pererat hubungan dengan keluarga dan sesama Muslim.

    Penutup

    Dengan mengetahui perbedaan puasa asyura dan tasua menjadikan kita lebih lapang serta lebih tau kenapa harus mengerjakan kedua puasa tersebut.

    Secara sederhana, perbedaan puasa Asyura dan Tasua terletak pada waktu pelaksanaan, niat, dan hikmah di balik pelaksanaannya. Puasa Tasua dilakukan pada tanggal 9 Muharram, sedangkan puasa Asyura dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram yang memiliki keutamaan menghapus dosa setahun yang lalu.

    Meski demikian, kedua puasa ini saling melengkapi dan sangat dianjurkan untuk dilakukan bersama agar lebih sempurna.

    Selain memperbanyak puasa sunnah, jangan lupa menghidupkan bulan Muharram dengan amal sosial melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire yang secara konsisten menjalankan program Pasar Bahagia, Festival Yatim Bahagia, Gerakan Gizi Santri, Majelis Botram, Mengaji itu Mudah, serta berbagai program sosial, pendidikan, santunan yatim, dan pemberdayaan umat lainnya.

    Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita untuk mengamalkan puasa Tasua dan Asyura serta memperbanyak amal saleh di bulan Muharram yang penuh keberkahan.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa Tasua? Ini Penjelasan Ulama dan Hukumnya

    Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa Tasua?

    Menjelang tanggal 10 Muharram, banyak umat Islam mulai mencari informasi tentang bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua. Pertanyaan ini sering muncul karena tidak semua orang sempat menjalankan puasa pada tanggal 9 Muharram atau yang dikenal dengan puasa Tasua.

    Ada yang baru mengetahui jadwal puasa Muharram di hari terakhir. Ada pula yang terhalang pekerjaan, perjalanan, atau alasan lainnya sehingga tidak sempat berpuasa pada tanggal 9 Muharram.

    Lalu muncul pertanyaan, apakah tetap boleh melaksanakan puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram saja?

    Kabar baiknya, mayoritas ulama menjelaskan bahwa puasa Asyura tanpa puasa Tasua tetap sah dan tetap mendapatkan keutamaan puasa Asyura. Namun memang terdapat rincian dan anjuran yang perlu dipahami agar ibadah yang dilakukan semakin sempurna.

    Keutamaan Puasa Asyura yang Sangat Besar

    bolehkah puasa asyura tanpa puasa tasua

    Sebelum membahas lebih jauh tentang bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua, penting untuk memahami betapa besar keutamaan puasa Asyura.

    Dari Abu Qatadah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Puasa Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

    Hadits ini menunjukkan bahwa puasa Asyura termasuk salah satu puasa sunnah yang memiliki keutamaan luar biasa.

    Baca Juga : Keutamaan Puasa Asyura dan Tasu’a: Amalan Istimewa di Bulan Muharram yang Jangan Dilewatkan

    Karena itu, jika seseorang terlanjur tidak berpuasa Tasua, bukan berarti ia harus meninggalkan puasa Asyura. Justru puasa Asyura tetap dianjurkan karena memiliki pahala yang sangat besar.

    Inilah alasan mengapa pertanyaan bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua perlu dijawab dengan pemahaman yang tepat agar umat Islam tidak kehilangan kesempatan meraih keutamaan tersebut.

    Mengapa Rasulullah ﷺ Menganjurkan Puasa Tasua?

    bolehkah puasa asyura tanpa puasa tasua

    Saat membahas bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua, kita perlu mengetahui alasan mengapa Rasulullah ﷺ menganjurkan puasa pada tanggal 9 Muharram.

    Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ berpuasa Asyura, para sahabat berkata:

    “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nasrani.”

    Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

    Para ulama menjelaskan bahwa salah satu hikmah puasa Tasua adalah untuk menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

    Karena itu, puasa Tasua berfungsi sebagai penyempurna puasa Asyura, bukan sebagai syarat sah puasa Asyura.

    Bolehkah Puasa Asyura Tanpa Puasa Tasua Menurut Mazhab Syafi’i?

    Pertanyaan bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua banyak dibahas dalam kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i.

    Dalam kitab Al-Umm, Imam Syafi’i menjelaskan bahwa tidak mengapa seseorang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram saja.

    Sebagaimana dijelaskan dalam kitab I’anatut Thalibin:

    “Tidak mengapa berpuasa pada hari kesepuluh saja.”

    Keterangan ini menjadi dasar bahwa dalam mazhab Syafi’i, puasa Asyura tanpa puasa Tasua diperbolehkan dan tetap bernilai sunnah.

    Hal senada juga dijelaskan oleh para ulama Syafi’iyah bahwa anjuran berpuasa pada tanggal 9 Muharram bertujuan menyempurnakan amalan dan menyelisihi kebiasaan Yahudi, bukan menjadikan puasa Asyura saja sebagai amalan yang tercela.

    Jadi, jika Anda bertanya bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua, maka jawabannya adalah boleh menurut pendapat yang kuat dalam mazhab Syafi’i.

    Pendapat Ulama yang Menganggap Makruh

    Meski demikian, ketika membahas bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.

    Sebagian ulama Hanafiyah berpendapat bahwa makruh berpuasa hanya pada tanggal 10 Muharram tanpa diiringi puasa tanggal 9 atau 11 Muharram.

    Mereka beralasan bahwa puasa tanggal 10 saja berpotensi menyerupai kebiasaan kaum Yahudi.

    Namun pendapat ini tidak diikuti oleh mayoritas ulama Syafi’iyah, Hanabilah, dan banyak ulama lainnya.

    Karena itu, perbedaan ini sebaiknya dipahami sebagai khazanah keilmuan Islam tanpa saling menyalahkan.

    Jika Terlewat Tasua, Apakah Masih Perlu Puasa Asyura?

    bolehkah puasa asyura tanpa puasa tasua

    Inilah inti dari pertanyaan bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua.

    Jawabannya: tetap dianjurkan.

    Bahkan banyak ulama menegaskan bahwa jangan sampai seseorang meninggalkan puasa Asyura hanya karena tidak sempat berpuasa Tasua.

    Sebab inti keutamaan berada pada puasa Asyura itu sendiri.

    Buya Yahya juga menjelaskan bahwa jika seseorang tidak sempat berpuasa pada tanggal 9 Muharram, maka tetap berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

    Jangan sampai kehilangan pahala puasa Asyura hanya karena merasa belum menjalankan puasa Tasua.

    Di tengah semangat memperbanyak amal pada bulan Muharram, umat Islam juga dapat melengkapi ibadah dengan memperbanyak sedekah. Salah satu sarana yang dapat dipilih adalah Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire yang memiliki berbagai program aktif setiap bulannya seperti Pasar Bahagia, Festival Yatim Bahagia, Gerakan Gizi Santri, Majelis Botram, Mengaji itu Mudah, santunan yatim, bantuan dhuafa, program pendidikan Islam, dan berbagai kegiatan sosial lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat.

    Alternatif Jika Tidak Puasa Tanggal 9 Muharram

    Sebagian ulama menganjurkan alternatif lain bagi yang tidak sempat melaksanakan puasa Tasua.

    Yaitu dengan berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram.

    Anjuran ini bertujuan agar tetap mendapatkan hikmah menyelisihi kebiasaan Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

    Baca Juga : Sudah Tahu? Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Muharram Menurut Ulama

    Karena itu, tingkatan pelaksanaan puasa Muharram yang sering disebut ulama adalah:

    1. Puasa tanggal 9, 10, dan 11 Muharram.
    2. Puasa tanggal 9 dan 10 Muharram.
    3. Puasa tanggal 10 dan 11 Muharram.
    4. Puasa tanggal 10 Muharram saja.

    Seluruh tingkatan tersebut tetap memiliki nilai kebaikan, meskipun tingkat kesempurnaannya berbeda.

    Jangan Sampai Kehilangan Keutamaan Asyura

    Terkadang seseorang terlalu fokus pada pertanyaan bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua hingga akhirnya tidak berpuasa sama sekali.

    Padahal para ulama justru menganjurkan agar tetap menjalankan puasa Asyura meskipun tidak sempat berpuasa pada hari sebelumnya.

    Yang terpenting adalah memanfaatkan kesempatan yang Allah berikan untuk memperoleh ampunan dan pahala yang besar.

    Selain puasa, Muharram juga menjadi waktu yang baik untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, membantu sesama, dan memperbanyak sedekah.

    Penutup

    Jadi, jawaban dari pertanyaan bolehkah puasa Asyura tanpa puasa Tasua adalah boleh. Menurut mazhab Syafi’i dan banyak ulama lainnya, puasa Asyura tetap sah, tetap sunnah, dan tetap mendapatkan keutamaan besar meskipun dilakukan tanpa puasa Tasua.

    Namun jika memungkinkan, lebih utama menggabungkan puasa tanggal 9 dan 10 Muharram untuk mengikuti keinginan Rasulullah ﷺ dalam menyelisihi kebiasaan kaum Yahudi. Jika tidak sempat tanggal 9, sebagian ulama menganjurkan menambah puasa tanggal 11 Muharram.

    Yang terpenting, jangan sampai kehilangan kesempatan meraih pahala puasa Asyura hanya karena tidak sempat menjalankan puasa Tasua.

    Lengkapi pula ibadah di bulan Muharram dengan memperbanyak amal sosial melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire yang secara rutin menghadirkan program Pasar Bahagia, Festival Yatim Bahagia, Gerakan Gizi Santri, Majelis Botram, Mengaji itu Mudah, serta berbagai program kemanusiaan, pendidikan, santunan yatim, dan pemberdayaan umat lainnya.

    Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita untuk menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ, memperbanyak amal saleh, dan meraih keberkahan di bulan Muharram.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Sudah Tahu? Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Muharram Menurut Ulama

    Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Muharram yang Perlu Dipahami dengan Benar

    Memasuki tahun baru Hijriyah, banyak umat Islam mulai mencari informasi tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram. Tidak sedikit pula yang menyamakan sepuluh hari awal Muharram dengan sepuluh hari pertama Dzulhijjah atau sepuluh hari terakhir Ramadhan yang memang memiliki dalil-dalil khusus tentang keutamaannya.

    Baca Juga : Tahun Baru Islam 1448 H Kapan? Ini Jawaban yang Banyak Dicari

    Lalu, benarkah terdapat keutamaan khusus pada 10 hari pertama Muharram?

    Pertanyaan ini penting dijawab agar semangat beribadah tetap berada di atas ilmu dan tidak sekadar mengikuti informasi yang beredar tanpa dasar yang jelas.

    Para ulama menjelaskan bahwa bulan Muharram memang termasuk bulan yang mulia. Namun, terkait keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram, terdapat rincian yang perlu diketahui agar pemahaman kita lebih tepat.

    Muharram Termasuk Bulan yang Dimuliakan Allah

    keutamaan 10 hari pertama bulan muharram

    Sebelum membahas keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram, kita perlu memahami kedudukan bulan Muharram dalam Islam.

    Allah Ta’ala berfirman:

    “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan… di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah: 36)

    Empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

    Baca Juga : Apa Saja Puasa Sunnah di Bulan Muharram? Ini 4 Jadwal dan Keutamaannya 

    Muharram bahkan disebut dalam hadits sebagai “Syahrullah” atau bulan Allah. Penyandaran nama bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan yang besar dibanding bulan-bulan lainnya.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram.” (HR. Muslim)

    Hadits ini menjadi salah satu dalil utama yang menunjukkan kemuliaan Muharram secara umum.

    Apakah Ada Dalil Khusus tentang Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Muharram?

    Inilah bagian yang sering disalahpahami.

    Sebagian kaum Muslimin menyebut bahwa keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram setara dengan sepuluh hari pertama Dzulhijjah. Padahal para ulama menjelaskan bahwa tidak terdapat hadits shahih yang secara khusus menyebutkan keutamaan seluruh sepuluh hari pertama Muharram.

    Dalam Fatawa Asy-Syabakiyah disebutkan:

    “Tidak terdapat hadits shahih yang menjelaskan keutamaan puasa sepuluh hari pertama Muharram secara keseluruhan.”

    Karena itu, ketika membahas keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram, yang lebih tepat adalah memahami bahwa kemuliaannya berasal dari keutamaan bulan Muharram secara umum, bukan karena adanya dalil khusus yang mengistimewakan seluruh sepuluh hari pertamanya.

    Meski demikian, terdapat atsar dari para ulama salaf yang menunjukkan bahwa mereka memberikan perhatian terhadap sepuluh hari awal Muharram.

    Abu Utsman An-Nahdi rahimahullah berkata:

    “Para salaf dahulu memuliakan tiga sepuluh hari: sepuluh hari terakhir Ramadan, sepuluh hari pertama Dzulhijjah, dan sepuluh hari pertama Muharram.”

    Atsar ini menunjukkan bahwa sebagian ulama generasi awal memberikan perhatian khusus pada awal Muharram sebagai momentum memperbanyak amal saleh.

    Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Muharram Menurut Para Ulama

    Walaupun tidak ada hadits khusus tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram, sejumlah ulama menjelaskan bahwa awal Muharram tetap termasuk waktu yang mulia karena berada dalam bulan yang dimuliakan Allah.

    Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa hari-hari terbaik di bulan Muharram berada pada bagian awalnya. Namun beliau juga menegaskan bahwa tafsir surat Al-Fajr tentang “sepuluh malam” lebih kuat merujuk kepada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, bukan Muharram.

    Dengan demikian, pemahaman yang seimbang adalah:

    • Muharram merupakan bulan yang mulia.
    • Tidak ada hadits sahih yang mengkhususkan seluruh 10 hari pertama Muharram.
    • Memperbanyak amal saleh di awal Muharram tetap termasuk perbuatan baik karena berada dalam bulan yang utama.

    Inilah pemahaman yang lebih tepat terkait keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram menurut penjelasan para ulama.

    Baca Juga : 7 Amalan Sunnah Bulan Muharram yang Paling Dianjurkan 

    Hari yang Paling Utama di Bulan Muharram

    keutamaan 10 hari pertama bulan muharram

    Jika berbicara tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram, maka terdapat dua hari yang memiliki dalil sangat kuat, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharram.

    Tanggal 10 Muharram dikenal sebagai hari Asyura.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

    Keutamaan ini merupakan salah satu keutamaan puasa sunnah terbesar yang disebutkan dalam hadits sahih.

    Baca Juga : Apa Itu Puasa Asyura dan Tasua? Kenali Makna dan Posisinya dalam Islam 

    Sedangkan tanggal 9 Muharram dikenal sebagai hari Tasu’a.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Jika aku masih hidup hingga tahun depan, sungguh aku akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)

    Hadits ini menunjukkan anjuran untuk menggabungkan puasa Tasu’a dan Asyura.

    Karena itu, ketika membahas keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram, perhatian terbesar justru seharusnya diberikan pada tanggal 9 dan 10 Muharram yang memang memiliki dalil yang jelas.

    Amalan yang Dianjurkan pada Awal Muharram

    keutamaan 10 hari pertama bulan muharram

    Meskipun tidak ada ibadah khusus yang ditetapkan untuk seluruh sepuluh hari pertama Muharram, seorang Muslim tetap dapat memanfaatkan momentum ini dengan memperbanyak amal saleh.

    Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain:

    1. Memperbanyak Puasa Sunnah

    Puasa merupakan amalan yang paling ditekankan pada bulan Muharram.

    2. Memperbanyak Istighfar

    Awal tahun Hijriyah menjadi waktu yang baik untuk memperbarui taubat kepada Allah SWT.

    3. Membaca Al-Qur’an

    Memulai tahun dengan memperbanyak tilawah dapat menjadi kebiasaan baik yang berlanjut sepanjang tahun.

    4. Memperbanyak Sedekah

    Sedekah termasuk amalan yang selalu dianjurkan kapan pun dan di mana pun.

    Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, umat Islam dapat menyalurkan sedekah melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmuslimbillionaire) yang memiliki berbagai program aktif setiap bulannya seperti Pasar Bahagia, Festival Yatim Bahagia, Gerakan Gizi Santri, Majelis Botram, Mengaji itu Mudah, santunan yatim, bantuan dhuafa, program pendidikan Islam, serta berbagai kegiatan sosial dan kemanusiaan lainnya.

    Melalui program-program tersebut, sedekah yang diberikan dapat menjadi manfaat nyata bagi masyarakat yang membutuhkan.

    Jangan Terjebak pada Perdebatan, Fokus pada Amal

    Perbedaan pendapat tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram seharusnya tidak membuat umat Islam sibuk berdebat.

    Yang lebih penting adalah memahami mana yang memiliki dalil khusus dan mana yang termasuk keutamaan umum.

    Jika seseorang ingin memperbanyak ibadah pada awal Muharram, tentu itu merupakan hal yang baik. Namun jangan sampai meyakini adanya keutamaan khusus yang tidak memiliki dasar hadits shahih.

    Sikap yang paling aman adalah memperbanyak amal saleh sepanjang bulan Muharram, dengan perhatian lebih pada puasa Tasu’a dan Asyura yang memang memiliki dalil yang jelas.

    Penutup

    Pembahasan tentang keutamaan 10 hari pertama bulan Muharram perlu dipahami secara proporsional. Tidak terdapat hadits sahih yang secara khusus mengistimewakan seluruh sepuluh hari pertama Muharram sebagaimana sepuluh hari pertama Dzulhijjah.

    Namun, terdapat atsar salaf yang menunjukkan perhatian mereka terhadap awal Muharram, dan yang lebih penting lagi, terdapat banyak dalil sahih tentang kemuliaan bulan Muharram secara umum.

    Karena itu, manfaatkan bulan ini dengan memperbanyak puasa sunnah, istighfar, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan bersedekah.

    Sebagai sarana menyalurkan kepedulian kepada sesama, Anda juga dapat berpartisipasi melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmuslimbillionaire) yang secara rutin menjalankan program Pasar Bahagia, Festival Yatim Bahagia, Gerakan Gizi Santri, Majelis Botram, Mengaji itu Mudah, serta berbagai program sosial, pendidikan, dan pemberdayaan umat lainnya.

    Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dan kekuatan kepada kita untuk memanfaatkan bulan Muharram dengan amal-amal terbaik dan menjadikan tahun Hijriyah yang baru sebagai awal perjalanan menuju kehidupan yang lebih berkah dan penuh ketaatan.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Cara Istiqomah dalam Beribadah kepada Allah: 10 Langkah agar Tetap Konsisten di Jalan Kebaikan

    Pernah merasa semangat ibadah begitu tinggi setelah mengikuti kajian, bulan Ramadhan, atau saat menghadapi ujian hidup? Namun beberapa minggu kemudian, semangat itu perlahan menghilang.

    Kondisi seperti ini sangat manusiawi. Hampir setiap Muslim pernah mengalaminya. Hari ini rajin membaca Al-Qur’an, besok mulai berkurang. Pekan ini semangat shalat berjamaah, bulan depan mulai jarang dilakukan.

    Karena itu, banyak orang mencari cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah agar semangat yang muncul tidak hanya bertahan sesaat.

    Istiqomah memang tidak mudah. Bahkan para ulama menyebut istiqomah sebagai salah satu ujian terbesar dalam kehidupan seorang Muslim. Namun kabar baiknya, cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah bisa dilatih secara bertahap hingga menjadi kebiasaan yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.

    Apa Arti Istiqomah dalam Islam?

    Sebelum membahas cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah, penting untuk memahami makna istiqomah itu sendiri.

    Secara sederhana, istiqomah berarti teguh, konsisten, dan terus berada di jalan yang benar sesuai perintah Allah SWT.

    Allah berfirman:

    “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian mereka tetap istiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka…” (QS. Fussilat: 30)

    Ayat ini menunjukkan bahwa istiqomah memiliki kedudukan yang sangat tinggi di sisi Allah.

    Baca Juga : WAJIB KUNJUNGI!! Masjid di Bogor yang Nyaman dan Berkesan

    Bukan hanya semangat sesaat yang dinilai, tetapi kemampuan seorang hamba untuk terus bertahan dalam ketaatan meskipun menghadapi berbagai godaan dan ujian.

    Karena itu, ketika membahas cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah, fokus utamanya bukan pada banyaknya amal, melainkan konsistensi dalam menjalankannya.

    Mengapa Sulit Istiqomah dalam Beribadah?

    Salah satu alasan orang gagal menerapkan cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah adalah karena tidak memahami penyebab turunnya semangat ibadah.

    Beberapa penyebab yang sering terjadi antara lain:

    • Terlalu bersemangat di awal.
    • Kurangnya ilmu agama.
    • Lingkungan yang tidak mendukung.
    • Terlalu sibuk dengan urusan dunia.
    • Kurang menjaga hati dari maksiat.
    • Tidak memiliki target ibadah yang jelas.

    Rasulullah ﷺ sendiri menjelaskan bahwa setiap orang memiliki masa semangat dan masa futur atau penurunan semangat.

    Karena itu, yang terpenting bukanlah tidak pernah turun semangat, melainkan mampu bangkit kembali ketika semangat tersebut menurun.

    1. Luruskan Niat karena Allah

    Langkah pertama dalam cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah adalah memperbaiki niat.

    Ibadah yang dilakukan karena ingin dipuji manusia biasanya tidak bertahan lama. Sebaliknya, ibadah yang dilakukan karena mengharap ridha Allah akan lebih mudah dijaga.

    Sebelum memulai amalan apa pun, tanyakan kepada diri sendiri:

    “kenapa saya melakukan ini? apakah benar-benar karena Allah atau hanya karena ingin dilihat teman saja?”

    Niat yang benar menjadi fondasi utama keistiqomahan.

    2. Mulai dari Amalan Kecil

    Banyak orang gagal menerapkan cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah karena langsung memasang target yang terlalu besar.

    Misalnya, tiba-tiba ingin membaca satu juz Al-Qur’an setiap hari padahal sebelumnya jarang membaca sama sekali.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Mulailah dari hal sederhana. Satu halaman Al-Qur’an setiap hari lebih baik daripada satu juz tetapi hanya bertahan beberapa hari.

    3. Perbanyak Doa agar Diberi Keistiqomahan

    Salah satu cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah yang sering dilupakan adalah meminta pertolongan Allah.

    Hati manusia sangat mudah berubah. Karena itu Rasulullah ﷺ sering berdoa:

    “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

    Doa adalah senjata seorang mukmin. Jangan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri.

    4. Cari Lingkungan yang Mendukung

    cara istiqomah dalam beribadah

    Lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah.

    Jika sehari-hari kita dikelilingi orang-orang yang mengingatkan pada kebaikan, maka peluang untuk istiqomah akan jauh lebih besar.

    Sebaliknya, lingkungan yang jauh dari nilai-nilai Islam sering kali membuat semangat ibadah melemah secara perlahan.

    Karena itu, aktiflah mengikuti majelis ilmu, komunitas Muslim, atau kegiatan masjid yang positif.

    5. Perbanyak Sedekah sebagai Penjaga Hati

    cara istiqomah dalam beribadah

    Salah satu amalan yang dapat membantu menjaga keistiqomahan adalah sedekah.

    Sedekah membuat hati lebih lembut, lebih bersyukur, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

    Saat ini, sedekah dapat disalurkan melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmuslimbillionaire) yang memiliki berbagai program kebaikan seperti santunan yatim, bantuan dhuafa, wakaf produktif, pendidikan Islam, bantuan kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi umat. 

    Baca Juga : 5 Manfaat Sedekah Subuh Setiap Hari yang Bikin Hati Lebih Tenang

    Melalui program-program tersebut, setiap Muslim memiliki kesempatan untuk menjaga konsistensi amal sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan.

    6. Jangan Menunggu Mood untuk Beribadah

    Kesalahan yang sering menghambat cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah adalah menunggu suasana hati yang baik.

    Padahal ibadah bukan dilakukan ketika mood sedang bagus saja.

    Orang yang istiqomah tetap menjalankan ibadah meskipun sedang lelah, sibuk, atau kurang bersemangat.

    Justru di saat itulah nilai istiqomah benar-benar terlihat.

    7. Jadwalkan Ibadah Seperti Aktivitas Penting Lainnya

    cara istiqomah dalam beribadah

    Jika pekerjaan dan rapat memiliki jadwal, mengapa ibadah tidak?

    Membuat jadwal merupakan salah satu cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah yang terbukti efektif.

    Tentukan waktu khusus untuk:

    • Membaca Al-Qur’an.
    • Shalat sunnah.
    • Dzikir pagi dan petang.
    • Kajian Islam.
    • Sedekah rutin.

    Ketika ibadah menjadi bagian dari rutinitas, peluang untuk melakukannya secara konsisten akan semakin besar.

    8. Hindari Maksiat yang Melemahkan Hati

    Maksiat adalah salah satu penghalang terbesar dalam cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah.

    Dosa yang terus dilakukan akan membuat hati keras dan berat untuk menerima kebaikan.

    Karena itu, selain memperbanyak ibadah, seorang Muslim juga harus berusaha meninggalkan kebiasaan buruk yang dapat menjauhkan dirinya dari Allah.

    9. Evaluasi Diri Secara Berkala

    Luangkan waktu setiap pekan atau setiap bulan untuk melakukan muhasabah.

    Tanyakan pada diri sendiri:

    • Apakah shalat sudah lebih baik?
    • Apakah tilawah meningkat?
    • Apakah sedekah masih rutin dilakukan?

    Muhasabah membantu menjaga fokus dalam menjalankan cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah.

    10. Ingat Bahwa Hidup Ini Sementara

    Salah satu motivasi terbesar dalam cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah adalah mengingat bahwa kehidupan dunia tidak berlangsung selamanya.

    Setiap hari yang berlalu adalah kesempatan yang tidak akan kembali.

    Kesadaran ini membuat seorang Muslim lebih menghargai waktu dan lebih semangat dalam memperbanyak amal saleh.

    Penutup

    Menerapkan cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah memang membutuhkan perjuangan. Tidak ada jalan instan untuk menjadi pribadi yang konsisten dalam ketaatan.

    Namun dengan niat yang ikhlas, lingkungan yang baik, doa yang terus dipanjatkan, serta kebiasaan amal yang dilakukan secara bertahap, keistiqomahan dapat tumbuh dan menguat dari waktu ke waktu.

    Selain menjaga ibadah pribadi, jangan lupa memperbanyak amal sosial sebagai bentuk syukur kepada Allah. Salah satu caranya adalah dengan bersedekah melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmuslimbillionaire) yang menyediakan berbagai program sosial, santunan yatim, bantuan dhuafa, pendidikan Islam, wakaf produktif, serta program kemanusiaan yang memberikan manfaat luas bagi umat.

    Semoga Allah SWT memudahkan kita dalam menjalankan cara istiqomah dalam beribadah kepada Allah, menjaga hati agar tetap berada di jalan kebaikan, dan menutup kehidupan kita dalam keadaan husnul khatimah.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Keutamaan Puasa Asyura dan Tasu’a: Amalan Istimewa di Bulan Muharram yang Jangan Dilewatkan

    Ketika memasuki bulan Muharram, banyak umat Islam mulai mencari informasi tentang keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a. Hal ini wajar karena kedua puasa sunnah tersebut termasuk amalan yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah ﷺ.

    Baca Juga : Tahun Baru Islam 1448 H Kapan? Ini Jawaban yang Banyak Dicari

    Sayangnya, tidak sedikit yang hanya mengetahui bahwa puasa Asyura dilakukan pada tanggal 10 Muharram tanpa memahami mengapa ibadah ini begitu istimewa. Padahal, keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a tidak hanya berkaitan dengan pahala puasa semata, tetapi juga memiliki nilai sejarah, spiritual, dan pendidikan yang sangat mendalam.

    Jika Ramadan adalah bulan wajib yang penuh keberkahan, maka Muharram adalah salah satu kesempatan terbaik untuk menambah timbangan amal melalui puasa sunnah.

    Lalu apa sebenarnya keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a yang membuat Rasulullah ﷺ sangat menganjurkannya?

    Mengenal Puasa Tasu’a dan Asyura

    keutamaan puasa asyura dan tasu'a

    Sebelum membahas keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a, penting untuk memahami pengertiannya terlebih dahulu.

    Puasa Tasu’a adalah puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 9 Muharram.

    Sedangkan puasa Asyura adalah puasa sunnah yang dilaksanakan pada tanggal 10 Muharram.

    Baca Juga : Kapan Puasa Tasua dan Asyura Tahun Ini? Cek Jadwal Resmi 2026

    Kedua puasa ini memiliki hubungan yang erat. Rasulullah ﷺ menganjurkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram agar berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

    Karena itu, banyak ulama menjelaskan bahwa menjalankan puasa Tasu’a dan Asyura secara bersamaan merupakan bentuk penyempurnaan sunnah Nabi.

    Memahami latar belakang ini membantu kita melihat bahwa keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ dengan lebih sempurna.

    Keutamaan Puasa Asyura dan Tasu’a yang Disebutkan dalam Hadits

    Salah satu keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a yang paling terkenal adalah penghapusan dosa setahun yang telah lalu.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

    Hadits ini menunjukkan betapa besarnya pahala yang Allah sediakan bagi orang-orang yang menjalankan puasa Asyura dengan penuh keimanan dan keikhlasan.

    Tentu yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil. Jika dosa besar yang dimaksud tetap harus meminta ampunan dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala

    Selain itu, keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a juga terlihat dari perhatian khusus Rasulullah ﷺ terhadap ibadah ini. Tidak banyak puasa sunnah yang disebutkan secara spesifik memiliki keutamaan sebesar puasa Asyura.

    Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar umat Islam tidak melewatkan kesempatan emas yang hanya datang sekali dalam setahun ini.

    Mengapa Rasulullah ﷺ Menganjurkan Puasa Tasu’a?

    Ketika membahas keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a, ada satu hikmah penting yang sering terlupakan.

    Rasulullah ﷺ ingin umat Islam memiliki identitas yang berbeda dari kaum Yahudi.

    Baca Juga : Apa Saja Puasa Sunnah di Bulan Muharram? Ini 4 Jadwal dan Keutamaannya 

    Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi ﷺ berkeinginan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram pada tahun berikutnya agar berbeda dengan mereka yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

    Dari sini para ulama menjelaskan bahwa salah satu keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a adalah menunjukkan ketaatan penuh kepada sunnah Rasulullah ﷺ.

    Semakin seseorang berusaha mengikuti tuntunan Nabi, semakin besar pula peluangnya mendapatkan cinta Allah SWT.

    Sejarah di Balik Puasa Asyura

    keutamaan puasa asyura dan tasu'a

    Keutamaan lain yang membuat keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a begitu istimewa adalah sejarah besar yang melatarbelakanginya.

    Dalam riwayat yang sahih disebutkan bahwa pada hari Asyura Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.

    Sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, Nabi Musa AS berpuasa pada hari tersebut.

    Ketika Rasulullah ﷺ mengetahui hal itu, beliau bersabda bahwa umat Islam lebih berhak mengikuti Nabi Musa AS. Karena itulah beliau melaksanakan puasa Asyura dan menganjurkannya kepada para sahabat.

    Kisah ini mengajarkan bahwa keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a juga berkaitan dengan rasa syukur atas pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

    Momentum Muharram untuk Memperbanyak Amal Saleh

    keutamaan puasa asyura dan tasu'a

    Selain memahami keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amal lainnya selama bulan Muharram.

    Pada bulan ini, setiap Muslim dapat meningkatkan kualitas ibadah dengan:

    • Memperbanyak dzikir.
    • Membaca Al-Qur’an.
    • Memperbanyak istighfar.
    • Menjalankan puasa sunnah.
    • Bersedekah kepada sesama.

    Sedekah menjadi salah satu amalan yang sangat dianjurkan karena manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pemberi, tetapi juga oleh masyarakat yang membutuhkan.

    Baca Juga : Apa Saja Peristiwa di Bulan Muharram? 7 Kisah Bersejarah yang Jarang Diketahui

    Untuk memudahkan penyaluran bantuan, umat Islam dapat bersed q ekah melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire yang memiliki berbagai program sosial seperti santunan yatim, bantuan dhuafa, wakaf produktif, bantuan pendidikan Islam, program kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

    Dengan menggabungkan puasa dan sedekah, seorang Muslim dapat memaksimalkan keberkahan bulan Muharram secara lebih menyeluruh.

    Keutamaan Puasa Asyura dan Tasu’a dalam Membentuk Karakter Muslim

    Tidak semua manfaat puasa dapat diukur dengan angka pahala.

    Salah satu keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a yang sering dirasakan secara langsung adalah terbentuknya karakter yang lebih baik.

    Ketika seseorang berpuasa, ia belajar mengendalikan hawa nafsu, menahan amarah, menjaga lisan, dan meningkatkan kesabaran.

    Latihan ini sangat berharga di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh godaan.

    Karena itu, keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a bukan hanya berlaku di akhirat, tetapi juga memberikan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.

    Orang yang terbiasa melatih pengendalian diri melalui puasa cenderung lebih bijak dalam mengambil keputusan dan lebih mudah menjaga hubungan dengan sesama.

    Cara Mengoptimalkan Keutamaan Puasa Asyura dan Tasu’a

    Agar keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a dapat dirasakan secara maksimal, ada beberapa hal yang bisa dilakukan.

    1. Menjaga Keikhlasan

    Lakukan puasa semata-mata karena Allah SWT, bukan karena tradisi atau sekadar ikut-ikutan.

    2. Menggabungkan Tasu’a dan Asyura

    Jika memungkinkan, laksanakan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus.

    3. Memperbanyak Doa

    Hari-hari ibadah adalah waktu yang baik untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah.

    4. Menambah Sedekah

    Lengkapi ibadah puasa dengan kepedulian sosial agar pahala semakin berlimpah.

    5. Memperbanyak Muhasabah

    Gunakan bulan Muharram sebagai waktu untuk mengevaluasi perjalanan hidup dan memperbaiki diri.

    Penutup

    Melihat berbagai dalil dan penjelasan ulama, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a termasuk salah satu keutamaan terbesar di antara puasa-puasa sunnah lainnya.

    Melalui keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a, Allah SWT memberikan kesempatan kepada hamba-Nya untuk memperoleh ampunan, meningkatkan ketakwaan, serta mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ yang mulia.

    Jangan sampai kesempatan yang hanya datang sekali dalam setahun ini berlalu begitu saja. Selain menjalankan puasa, lengkapi bulan Muharram dengan amal-amal terbaik seperti sedekah, membantu sesama, dan memperbanyak ibadah.

    Sebagai sarana menyalurkan kepedulian kepada umat, Anda dapat berpartisipasi melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmuslimbillionaire) yang menghadirkan berbagai program sedekah, santunan yatim, bantuan dhuafa, pendidikan Islam, wakaf produktif, dan program sosial lainnya yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.

    Semoga dengan memahami dan mengamalkan keutamaan puasa Asyura dan Tasu’a, kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan Muharram, ampunan Allah SWT, dan pahala yang terus mengalir hingga akhir hayat.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Bagaimana Bacaan Yang Benar dari Niat Puasa Asyura Beserta Artinya?

    Bulan Muharram selalu menjadi salah satu bulan yang dinanti oleh umat Islam. Selain termasuk bulan haram yang dimuliakan Allah SWT, Muharram juga memiliki amalan istimewa yang sangat dianjurkan, yaitu puasa Asyura.

    Tidak heran jika menjelang tanggal 10 Muharram, banyak orang mencari niat puasa Asyura beserta artinya agar dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih yakin dan sesuai tuntunan.

    Puasa Asyura bukanlah amalan biasa. Rasulullah ﷺ bahkan menyebutkan bahwa puasa ini memiliki keutamaan besar, yaitu menjadi sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil selama satu tahun yang telah berlalu.

    Lalu bagaimana bacaan niat puasa Asyura beserta artinya? Kapan waktu membaca niatnya? Dan apa saja keutamaan yang bisa diperoleh dari puasa sunnah ini?

    Niat Puasa Asyura Beserta Artinya yang Benar

    niat puasa asyura beserta artinya

    Bagi umat Islam yang ingin menjalankan puasa pada tanggal 10 Muharram, berikut niat puasa Asyura beserta artinya yang biasa dibaca pada malam hari sebelum berpuasa.

    Tulisan Arab

    نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُوْرَاءَ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

    Latin

    Nawaitu shauma ‘Asyuraa-a sunnatan lillaahi ta’aalaa.

    Artinya

    “Saya berniat puasa sunnah Asyura karena Allah Ta’ala.”

    Bacaan niat puasa Asyura beserta artinya tersebut menjadi bentuk kesungguhan hati untuk menjalankan ibadah puasa semata-mata karena Allah SWT.

    Meski niat tempatnya di dalam hati, melafalkan niat dapat membantu seseorang menghadirkan kesadaran dan kekhusyukan sebelum memulai ibadah.

    Baca juga : Kapan Puasa Tasua dan Asyura Tahun Ini? Cek Jadwal Resmi 2026

    Karena itu, memahami niat puasa Asyura beserta artinya menjadi langkah awal yang baik sebelum menjalankan puasa sunnah yang penuh keutamaan ini.

    Kapan Niat Puasa Asyura Dibaca?

    niat puasa asyura beserta artinya

    Setelah mengetahui niat puasa Asyura beserta artinya, pertanyaan berikutnya yang sering muncul adalah kapan niat tersebut dibaca.

    Mayoritas ulama menjelaskan bahwa niat puasa sunnah dapat dilakukan sejak malam hari hingga sebelum tergelincir matahari selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

    Namun, jika memungkinkan, membaca niat puasa Asyura beserta artinya sejak malam hari setelah Maghrib atau sebelum tidur tentu lebih utama.

    Dengan demikian, ketika memasuki waktu Subuh, seseorang sudah memiliki tekad yang kuat untuk menjalankan puasa Asyura secara penuh hingga waktu berbuka.

    Selain mempersiapkan niat, malam menjelang puasa Asyura juga dapat diisi dengan memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, dan berdoa agar Allah menerima amal ibadah yang dilakukan.

    Baca Juga : Apa Itu Puasa Asyura dan Tasua? Kenali Makna dan Posisinya dalam Islam 

    Keutamaan Puasa Asyura yang Sangat Besar

    niat puasa asyura beserta artinya

    Mempelajari niat puasa Asyura beserta artinya tidak lengkap tanpa memahami keutamaan dari puasa ini.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Puasa Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

    Hadits diatas menjadi dalil keutamaan dari menjalankan puasa Asyura, dimana kita manusia pasti tidak luput dari yang namanya dosa, tapi dengan niat menjalankan puasa Asyura untuk menghapus dosa kita yang lalu menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi.

    Tapi tentu yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar tetap membutuhkan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.

    Keutamaan lain dari puasa Asyura adalah menjadi salah satu bentuk kecintaan kepada sunnah Rasulullah ﷺ. 

    Sebagaimana Rasulullah bersabda :

    “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian manusia mengamalkannya, maka ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Ibnu Majah)

    Di tengah semangat memperbanyak amal pada bulan Muharram, umat Islam juga dianjurkan untuk meningkatkan kepedulian sosial. Salah satu bentuknya adalah dengan bersedekah melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmuslimbillionaire) yang memiliki berbagai program kebaikan seperti santunan yatim, bantuan dhuafa, wakaf produktif, program pendidikan Islam, bantuan kemanusiaan, hingga pemberdayaan ekonomi umat. 

    Dengan menggabungkan ibadah puasa dan sedekah, seorang Muslim dapat memanfaatkan bulan Muharram sebagai momentum untuk memperbanyak amal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.

    Mengapa Puasa Asyura Dilaksanakan pada 10 Muharram?

    Puasa Asyura dilaksanakan setiap tanggal 10 Muharram dalam kalender Hijriyah.

    Hari Asyura memiliki nilai sejarah yang sangat penting. Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa pada hari tersebut Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.

    Baca Juga : 7 Keutamaan Sedekah di Bulan Muharram yang Sayang Dilewatkan

    Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura sebagai bentuk rasa syukur atas peristiwa tersebut.

    Kemudian Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa umat Islam lebih berhak menghormati Nabi Musa AS dan beliau pun berpuasa pada hari itu serta menganjurkan para sahabat untuk melaksanakannya.

    Karena itu, memahami niat puasa Asyura beserta artinya menjadi bagian dari upaya menghidupkan sunnah yang memiliki akar sejarah panjang dalam perjalanan para nabi.

    Tata Cara Menjalankan Puasa Asyura

    Setelah mengetahui niat puasa Asyura beserta artinya, berikut tata cara sederhana menjalankan puasa Asyura.

    1. Membaca Niat

    Awali dengan membaca niat puasa Asyura beserta artinya pada malam hari atau sebelum waktu yang diperbolehkan untuk berniat puasa sunnah.

    2. Makan Sahur

    Sahur merupakan sunnah yang sangat dianjurkan.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Bersahurlah kalian, karena pada sahur terdapat keberkahan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    3. Menahan Diri dari Hal yang Membatalkan Puasa

    Bukan hanya makan dan minum saja yang membatalkan puasa, tapi juga menahan kita dari hawa nafsu yang menggerogoti jiwa serta perilaku buruk kita.

    4. Memperbanyak Amal Saleh

    Selain puasa, perbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, dan bersedekah.

    5. Menyegerakan Berbuka

    Ketika matahari terbenam, segerakan berbuka sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

    Bolehkah Menggabungkan Puasa Tasu’a dan Asyura?

    Banyak ulama menganjurkan untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a) sekaligus tanggal 10 Muharram (Asyura).

    Hal ini berdasarkan keinginan Rasulullah ﷺ untuk membedakan ibadah umat Islam dengan kebiasaan orang Yahudi yang hanya berpuasa pada hari Asyura.

    Karena itu, selain mencari niat puasa Asyura beserta artinya, banyak Muslim juga mencari niat puasa Tasu’a agar dapat melaksanakan kedua puasa tersebut secara bersamaan.

    Penutup

    Mengetahui niat puasa Asyura beserta artinya merupakan langkah awal yang penting bagi setiap Muslim yang ingin meraih keutamaan puasa 10 Muharram. Dengan memahami niat, tata cara, dan keutamaannya, ibadah puasa dapat dijalankan dengan lebih tenang dan penuh kesadaran.

    Puasa Asyura bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Amalan ini juga menjadi kesempatan untuk memperbanyak taubat, memperkuat hubungan dengan Allah, dan meningkatkan kepedulian terhadap sesama.

    Sebagai bentuk nyata dari semangat berbagi di bulan Muharram, Anda juga dapat menyalurkan sedekah melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmuslimbillionaire) yang menghadirkan berbagai program sosial, santunan yatim, bantuan dhuafa, wakaf, pendidikan Islam, serta program kemanusiaan yang memberikan manfaat luas bagi umat.

    Semoga dengan mengamalkan niat puasa Asyura beserta artinya, menjalankan puasa sunnah, dan memperbanyak sedekah, Allah SWT melimpahkan keberkahan, ampunan, dan kebaikan yang berlimpah dalam kehidupan kita.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Doa Awal Tahun dan Akhir Tahun Hijriyah: Bacaan, Waktu Membaca, dan Maknanya

    Menjelang pergantian tahun Islam, banyak umat Muslim mencari doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah untuk diamalkan bersama keluarga. Tradisi membaca doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah telah dikenal luas sebagai sarana muhasabah sekaligus memohon keberkahan kepada Allah SWT.

    Bagi sebagian orang, membaca doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah bukan sekadar rutinitas tahunan. Momen ini menjadi kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan hidup selama satu tahun terakhir dan memulai tahun baru dengan harapan yang lebih baik.

    Lalu seperti apa bacaan doa tersebut dan kapan waktu yang tepat untuk membacanya?

    Apa Itu Doa Awal Tahun dan Akhir Tahun Hijriyah?

    doa awal tahun dan akhir tahun hijriyah

    Doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah adalah doa yang biasa dibaca menjelang berakhirnya bulan Dzulhijjah dan ketika memasuki 1 Muharram. 

    Banyak Muslim menjadikan doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah sebagai amalan untuk memohon ampun atas dosa yang telah lalu serta meminta perlindungan dan keberkahan pada tahun yang baru.

    Meski terdapat perbedaan pendapat mengenai riwayat khusus yang menjelaskan doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah, para ulama sepakat bahwa berdoa merupakan ibadah yang sangat dianjurkan kapan pun dan di mana pun.

    Pada dasarnya, berdoa kapan pun adalah ibadah yang dianjurkan.

    Allah berfirman:

    “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

    Karena itu, membaca doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah dipandang sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan mengisi pergantian tahun dengan aktivitas yang bernilai ibadah.

    Bacaan Doa Akhir Tahun Hijriyah

    Dalam rangkaian doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah, doa akhir tahun biasanya dibaca pada penghujung bulan Dzulhijjah sebelum masuk waktu Maghrib.

    Berikut bacaan yang banyak diamalkan oleh kaum Muslimin:

    اَللّٰهُمَّ مَا عَمِلْتُ مِنْ عَمَلٍ فِي هٰذِهِ السَّنَةِ مَا نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَحَلُمْتَ فِيْها عَلَيَّ بِفَضْلِكَ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْ بَعْدِ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَإِنِّي اسْتَغْفَرْتُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَى وَوَعَدْتَّنِي عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْئَلُكَ أَنْ تَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَلَا تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ

    Allahumma maa ‘amiltu fii hadzihis sanati mimmaa nahaitanii ‘anhu falam atub minhu wa lam tardhahu wa nasiitahu wa halimta ‘alayya ba’da qudratika ‘ala ‘uquubatii wa da’autanii ilat taubati minhu ba’da juraa-atii ‘alaa ma’shiyatika fa inni astaghfiruka faghfir lii.

    Artinya:
    “ Tuhanku, aku meminta ampun atas perbuatanku di tahun ini yang termasuk Kau larang-sementara aku belum sempat bertobat, perbuatanku yang Kau maklumi karena kemurahan-Mu-sementara Kau mampu menyiksaku, dan perbuatan (dosa) yang Kau perintahkan untuk tobat-sementara aku menerjangnya yang berarti mendurhakai-Mu. Tuhanku, aku berharap Kau menerima perbuatanku yang Kau ridhai di tahun ini dan perbuatanku yang terjanjikan pahala-Mu. Janganlah kau membuatku putus asa. Wahai Tuhan Yang Maha Pemurah.”

    Secara umum, isi doa ini berisi permohonan ampun atas dosa yang dilakukan selama setahun terakhir. Karena itu, banyak ulama menganjurkan agar pembacaan doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah disertai dengan istighfar dan taubat yang sungguh-sungguh.

    Makna yang terkandung di dalamnya sangat menyentuh. Manusia sering kali berbuat salah, lalai, bahkan menunda taubat. Melalui doa ini, seorang Muslim diajak untuk mengakui kelemahannya di hadapan Allah dan memohon ampunan-Nya.

    Momen akhir tahun menjadi waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah. Tidak hanya menghitung pencapaian dunia, tetapi juga mengevaluasi kualitas shalat, sedekah, tilawah Al-Qur’an, dan hubungan dengan sesama manusia.

    Di tengah semangat memperbaiki diri melalui doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah, sebagian Muslim juga memilih memperbanyak amal sosial. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyalurkan sedekah melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmasjidmuslimbillionaire) yang memiliki berbagai program kepedulian umat seperti :

    1. Santunan Yatim dengan nama program Festival Yatim Bahagia
    2. Bantuan jamaah dengan nama program Pasar Bahagia
    3. Wakaf Masjid
    4. Program pendidikan Islam dengan nama Program Pondok CEO
    5. Serta kegiatan sosial kemanusiaan yang bermanfaat bagi masyarakat luas seperti Majelis Botram dan Mengaji itu Mudah.
    Baca Juga : Bagaimana Cara Memperbaiki Diri Menurut Islam? 4 Langkah Awal yang Bisa Kamu lakukan!

    Bacaan Doa Awal Tahun Hijriyah

    Setelah masuk waktu Maghrib yang menandai awal bulan Muharram, umat Islam biasanya membaca doa awal tahun.

    Berikut bacaan yang umum diamalkan:

    اَللّٰهُمَّ أَنْتَ الأَبَدِيُّ القَدِيمُ الأَوَّلُ وَعَلَى فَضْلِكَ العَظِيْمِ وَكَرِيْمِ جُوْدِكَ المُعَوَّلُ، وَهٰذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ، أَسْأَلُكَ العِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ، وَالعَوْنَ عَلَى هٰذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ، وَالاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ

    Allahumma antal abadiyyul qadiimul awwal, wa ‘alaa fadhlikal ‘azhiimi wa juudikal mu’awwalu, wa hadzaa ‘aamun jadiidun qad aqbala, nas-aluka al-‘ishmata minasy syaithaan wa auliyaa-ihi wa junuudih, wal ‘auna ‘alaa haadzihin nafsil ammaarati bis suu’, wal isytighaala bimaa yuqarribunii ilaika zulfaa yaa dzal jalaali wal ikraam.

    Artinya:
    “Tuhanku, Kau yang Abadi, Qadim, dan Awal. Atas karunia-Mu yang besar dan kemurahan-Mu yang mulia, Kau menjadi pintu harapan. Tahun baru ini sudah tiba. Aku berlindung kepada-Mu dari bujukan Iblis dan para walinya di tahun ini. Aku pun mengharap pertolongan-Mu dalam mengatasi nafsu yang kerap mendorongku berlaku jahat. Kepada-Mu, aku memohon bimbingan agar aktivitas keseharian mendekatkanku pada rahmat-Mu. Wahai Tuhan Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan.”

    Isi doa ini berfokus pada harapan agar Allah memberikan perlindungan sepanjang tahun yang baru.

    Bukan hanya perlindungan dari gangguan setan, tetapi juga perlindungan dari hawa nafsu yang sering menjadi penyebab berbagai maksiat.

    Ketika memasuki tahun baru Hijriyah, banyak orang membuat target baru. Ada yang ingin lebih rajin shalat berjamaah, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, mengurangi kebiasaan buruk, hingga meningkatkan kualitas sedekah.

    Doa awal tahun menjadi pengingat bahwa perubahan terbaik bukan hanya soal target duniawi, tapi jugakedekatan kepada Allah.

    Keutamaan Mengisi Tahun Baru Hijriyah dengan Doa dan Muhasabah

    doa awal tahun dan akhir tahun hijriyah

    Tahun baru Hijriyah memiliki makna sejarah yang sangat besar. Kalender Islam dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad ﷺ dari Makkah ke Madinah.

    Peristiwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi simbol perubahan menuju keadaan yang lebih baik.

    Rasulullah ﷺ bersabda:

    “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari)

    Karena itu, saat membaca doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah, yang paling penting bukan hanya melafalkan kata-katanya. Yang lebih utama adalah menghadirkan tekad jihad untuk berhijrah menjadi pribadi yang lebih taat dan sholeh.

    Baca Juga : Tahun Baru Islam 1448 H Kapan? Ini Jawaban yang Banyak Dicari

    Muhasabah juga membantu seseorang menyadari bahwa waktu terus berjalan. Tahun yang telah berlalu tidak akan kembali.

    Setiap amal baik yang dilakukan akan menjadi bekal, sedangkan setiap kesalahan membutuhkan taubat dan perbaikan.

    Amalan yang Bisa Dilakukan Saat Pergantian Tahun Hijriyah

    doa awal tahun dan akhir tahun hijriyah

    Selain membaca doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah, ada beberapa amalan yang dapat dilakukan.

    1. Memperbanyak Istighfar

    Istighfar merupakan cara terbaik untuk membersihkan diri dari dosa yang telah lalu.

    Bacaan sederhana seperti:

    Astaghfirullahal ‘azhiim wa atuubu ilaih

    dapat dibaca sebanyak mungkin sepanjang hari.

    2. Membuat Target Ibadah

    Buat target yang realistis.

    Misalnya:

    • Menyelesaikan khatam Al-Qur’an.
    • Menjaga shalat tepat waktu.
    • Mengikuti kajian rutin.
    • Menambah sedekah bulanan.

    3. Bersedekah

    Sedekah adalah amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam.

    Allah berfirman:

    “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir…” (QS. Al-Baqarah: 261)

    Baca Juga : MASIH RAGU BERSEDEKAH? Ini Alasan Kita Harus Bersedekah

    Agar lebih terarah dan tepat sasaran, sedekah dapat disalurkan melalui Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire yang menghadirkan berbagai program kepedulian umat seperti santunan Yatim dengan nama program Festival Yatim Bahagia, bantuan jamaah dengan nama program Pasar bahagia, wakaf masjid, program pendidikan Islam dengan nama Program Pondok CEO, serta kegiatan sosial kemanusiaan yang bermanfaat bagi masyarakat luas seperti Majelis Botram dan Mengaji itu Mudah.

    4. Memperbanyak Doa

    Pergantian tahun adalah momen yang baik untuk memperbanyak doa.

    Mintalah:

    • Ampunan dosa.
    • Kemudahan rezeki.
    • Kesehatan.
    • Keberkahan keluarga.
    • Keistiqamahan dalam ibadah.

    Membaca doa awal tahun dan akhir tahun Hijriyah merupakan tradisi yang telah lama dikenal di tengah masyarakat Muslim. Meski tidak memiliki dalil khusus yang shahih mengenai lafaz tertentu, berdoa pada pergantian tahun tetap menjadi amalan yang baik karena berisi permohonan ampunan, perlindungan, dan harapan kepada Allah.

    Jangan biarkan tahun baru Hijriyah berlalu begitu saja. Jadikan momen ini sebagai waktu untuk mengevaluasi diri, memperbanyak istighfar, memperkuat ibadah, dan meningkatkan kepedulian sosial.

    Selain berdoa, isi awal tahun dengan amal nyata seperti membantu sesama melalui program-program kebaikan yang diselenggarakan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire, sehingga pergantian tahun tidak hanya menjadi perubahan angka, tetapi juga menjadi awal perjalanan menuju pribadi Muslim yang lebih baik.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Kapan Puasa Tasua dan Asyura Tahun Ini? Cek Jadwal Resmi 2026

    Jangan Sampai Salah Tanggal, Karena Selisih Satu Hari Bisa Membuat Anda Kehilangan Momen Sunnah Ini

    Bagi umat Islam yang ingin memaksimalkan ibadah di bulan Muharram, salah satu pertanyaan paling sering muncul adalah: kapan puasa Tasua dan Asyura tahun ini dilaksanakan? 

    Banyak Muslim sudah berniat menjalankannya sejak jauh hari. Namun tidak sedikit yang baru mencari jadwal ketika tanggal pelaksanaannya tinggal beberapa hari lagi.

    Jika abang, kakak, ayah, atau bunda sedang mencari kapan puasa Tasua dan Asyura tahun ini, artikel ini akan langsung membahas jadwal tahun 2026 tanpa berputar-putar ke topik lain.

    Jadwal Puasa Tasua Tahun 2026

    kapan puasa tasua dan asyura tahun ini

    Jawaban pertama dari pertanyaan kapan puasa Tasua dan Asyura tahun ini adalah mengetahui tanggal pelaksanaan Puasa Tasua.

    Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang mengacu pada 1 Muharram 1448 H jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026, maka:

    Puasa Tasua 2026

    Rabu, 24 Juni 2026

    9 Muharram 1448 Hijriah

    Puasa Tasua merupakan puasa sunnah yang dilaksanakan sehari sebelum Puasa Asyura.

    Karena itu, bagi yang ingin melaksanakan rangkaian puasa Muharram yang paling sering dianjurkan para ulama, tanggal ini perlu dicatat sejak sekarang.

    Baca Juga : Apa Itu Puasa Asyura dan Tasua? Kenali Makna dan Posisinya dalam Islam 

    Jadwal Puasa Asyura Tahun 2026

    kapan puasa tasua dan asyura tahun ini

    Setelah mengetahui Puasa Tasua, pertanyaan berikutnya tentu adalah kapan puasa Asyura tahun ini.

    Berdasarkan kalender Hijriah 1448 H, jadwalnya adalah:

    Puasa Asyura 2026

    Kamis, 25 Juni 2026

    10 Muharram 1448 Hijriah

    Inilah tanggal yang paling banyak dicari ketika seseorang mengetik keyword kapan puasa Tasua dan Asyura tahun ini.

    Puasa Asyura merupakan salah satu puasa sunnah yang sangat dikenal oleh umat Islam dan setiap tahun selalu menjadi momentum ibadah yang dinantikan.

    Baca Juga : Tahun Baru Islam 1448 H Kapan? Ini Jawaban yang Banyak Dicari

    Ringkasan Jadwal Puasa Tasua dan Asyura 2026

    Agar lebih mudah disimpan, berikut jadwal lengkapnya:

    Ibadah Tanggal Hijriah Tanggal Masehi
    Puasa Tasua 9 Muharram 1448 H Rabu, 24 Juni 2026
    Puasa Asyura 10 Muharram 1448 H Kamis, 25 Juni 2026

    Bagi yang sedang mencari jadwal puasa Tasua tahun 2026 maupun jadwal puasa Asyura tahun 2026, tabel ini bisa langsung dijadikan pengingat.

    Mengapa Banyak Muslim Menjalankan Puasa Tasua dan Asyura Bersamaan?

    kapan puasa tasua dan asyura tahun ini

    Ketika mencari kapan puasa Tasua dan Asyura tahun ini, banyak orang akhirnya menemukan bahwa kedua puasa tersebut sering dikerjakan secara berurutan.

    Hal ini didasarkan pada hadits Rasulullah SAW.

    Beliau bersabda:

    “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan.”

    (HR. Muslim)

    Karena itulah banyak ulama menganjurkan agar Puasa Tasua dan Puasa Asyura dilaksanakan secara berurutan pada tanggal 9 dan 10 Muharram.

    Sejarah Puasa Asyura: Dari Nabi Musa hingga Nabi Muhammad SAW

    Puasa Asyura memiliki sejarah yang sangat kaya dan mengakar kuat. Berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas RA dalam Shahih Bukhari, ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati kaum Yahudi tengah berpuasa pada hari ke-10 Muharram.

    Ketika Nabi SAW bertanya kepada mereka alasan berpuasa, kaum Yahudi menjawab bahwa hari itu adalah hari di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dari kejaran Raja Firaun. Pada hari bersejarah tersebut, Nabi Musa dan Bani Israil berhasil menyeberangi Laut Merah yang terbelah setelah Nabi Musa memukulkan tongkatnya, sehingga mereka selamat dari pasukan Firaun. Kaum Yahudi lalu berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan itu.

    Baca Juga : Apa Saja Peristiwa di Bulan Muharram? 7 Kisah Bersejarah yang Jarang Diketahui

    Mendengar penjelasan tersebut, Rasulullah SAW bersabda: “Akulah yang lebih berhak terhadap Musa dibanding kalian.” Beliau kemudian berpuasa pada hari itu dan memerintahkan para sahabatnya untuk turut berpuasa (HR. Bukhari & Muslim).

    Pada perkembangan selanjutnya, Rasulullah SAW menyatakan keinginan untuk menambahkan puasa tanggal 9 Muharram agar berbeda dari tradisi kaum Yahudi. Beliau bersabda: “Sungguh, jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa tanggal 9 dan 10.” (HR. Al-Khallal). Sayangnya, beliau wafat sebelum Muharram tahun berikutnya tiba, dan dari sinilah puasa Tasua mulai dianjurkan.

    Jika Ayah Bunda mendapatkan pertanyaan darimana asal cerita tentang kapan puasa tasua dan asyura tahun ini dilaksanakan? Maka Ayah Bunda bisa menceritakan secara singkat kisah diatas tersebut sebagai jawabannya.

    Apakah Jadwal Puasa Tasua dan Asyura Bisa Berubah?

    Mungkin Ayah, Bunda masih punya pertanyaan seperti ini ketika berpikir bahwa puasa asyura dan tasua berdasarkan dari mulainya bulan Muharram, Bagaimana jika nanti bulan muharram tidak terjadi pada waktu yang ada seperti di kalender?

    Secara umum, jadwal yang tercantum dalam Kalender Hijriah Indonesia digunakan sebagai acuan resmi bagi warga Indonesia.

    Baca Juga : Apa Saja Puasa Sunnah di Bulan Muharram? Ini 4 Jadwal dan Keutamaannya 

    Namun karena kalender Hijriah berkaitan dengan rukyatul hilal, selalu ada kemungkinan penyesuaian apabila terdapat keputusan resmi yang berbeda menjelang masuknya bulan Muharram.

    Karena itu, mendekati tanggal pelaksanaan, tetap ikuti pengumuman resmi dari Kementerian Agama RI.

    Meski demikian, hingga saat artikel ini dibuat, Puasa Tasua 2026 diperkirakan jatuh pada 24 Juni 2026 dan Puasa Asyura 2026 pada 25 Juni 2026 sesuai dengan mulainya bulan muharram pada tanggal 16 Juni 2026.

    Amalan yang Bisa Dipersiapkan Menjelang Puasa Tasua dan Asyura

    Mengetahui kapan puasa tasua dan asyura tahun ini memang menjadi hal penting bagi setiap muslim dan muslimah di seluruh dunia, terutama bagi rakyat muslim Indonesia.

    Dan puasa Tasua dan Asyura harus menjadi hal yang kita lakukan ketika masuk di bulan muharram, maka kita bisa mulai dengan mempersiapkan semaksimal mungkin diri kita agar tidak terlewat puasa spesial bulan muharram ini.

    Kegiatan yang bisa Ayah, Bunda, Abang Kakak lakukan untuk mempersiapkan Puasa Antara Lain :

    • Menandai tanggal 24 dan 25 Juni 2026 di kalender.
    • Menyiapkan niat untuk menjalankan puasa sunnah Muharram.
    • Mengatur aktivitas agar lebih mudah menjalankan puasa.
    • Memaksimalkan amal shaleh seperti membaca kitab suci Al-Quran dan Bersedekah

    Sebagian Muslim juga memanfaatkan momen Muharram untuk berbagi kepada sesama melalui program sosial dan kemanusiaan.

    Semangat berbagi tersebut dapat disalurkan melalui berbagai program yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire (@baitulmaalmuslimbillionaire), mulai dari santunan yatim, dakwah, pendidikan Islam, hingga bantuan kemanusiaan untuk masyarakat yang membutuhkan.

    Baca Juga : 7 Amalan Sunnah Bulan Muharram yang Paling Dianjurkan 

    Amalan Sunnah Lain di Bulan Muharram 2026

    Selain puasa Tasua dan Asyura, Rasulullah SAW menyebut Muharram sebagai “bulan Allah” dan menganjurkan umatnya untuk memperbanyak puasa sunnah sepanjang bulan tersebut. Beberapa amalan yang bisa dikerjakan antara lain:

    • Puasa Senin-Kamis sepanjang bulan Muharram
    • Puasa Ayyamul Bidh (13, 14, 15 Muharram 1448 H = 28, 29, 30 Juni 2026)
    • Memperbanyak sedekah dan doa
    • Memperbanyak tilawah Al-Qur’an
    • Memperbanyak istighfar dan dzikir

     

    Jika Anda masih bertanya kapan puasa Tasua dan Asyura tahun ini, maka berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 1448 H:

    • Puasa Tasua dilaksanakan pada Rabu, 24 Juni 2026 (9 Muharram 1448 H).
    • Puasa Asyura dilaksanakan pada Kamis, 25 Juni 2026 (10 Muharram 1448 H).

    Simpan tanggal tersebut dari sekarang agar tidak terlewat.

    Semoga Allah SWT memberikan kemudahan kepada kita untuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW melalui puasa Tasua dan Asyura di bulan Muharram.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520