Blog

  • Dalil Tentang Pentingnya Sholat Tepat Waktu Berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits

    Pernahkah kita bertanya, mengapa Allah tidak hanya memerintahkan shalat, tetapi juga menentukan waktunya secara rinci?

    Padahal seseorang bisa saja shalat kapan pun dalam sehari.

    Namun ternyata Allah menetapkan waktu-waktu tertentu yang tidak boleh diabaikan.

    Di situlah letak salah satu rahasia besar ibadah shalat.

    Bukan hanya soal mengerjakan shalat, tetapi juga soal bagaimana seorang Muslim menghormati panggilan Allah tepat pada waktunya.

    Karena itu, ketika membahas dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu, kita tidak hanya berbicara tentang aturan ibadah. Kita sedang membahas bentuk ketaatan yang sangat dicintai Allah SWT.

    Dalil Tentang Pentingnya Sholat Tepat Waktu dalam Al-Qur’an

    Dalil pertama yang paling jelas terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 103.

    Allah SWT berfirman:

    إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

    “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman.”

    Ayat ini menjadi landasan utama dalam pembahasan dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu.

    Allah tidak hanya memerintahkan shalat, tetapi juga menetapkan waktu pelaksanaannya.

    Karena itu para ulama menjelaskan bahwa menjaga waktu shalat merupakan bagian dari kesempurnaan ibadah itu sendiri.

    Imam Al-Auza’i menukil penjelasan Al-Qasim bin Mukhaymirah mengenai firman Allah dalam Surah Maryam ayat 59 tentang orang yang menyia-nyiakan shalat.

    Beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah orang yang menyia-nyiakan waktu shalat, bukan sekadar meninggalkannya.

    Ini menunjukkan bahwa perhatian Islam terhadap waktu shalat sangat besar.

    Baca Juga : Apa Akibat Bagi Orang Yang Tidak Shalat? Masuk Surga atau Tidak?

    Hadits Tentang Amalan Paling Dicintai Allah

    dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu

    Salah satu dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu yang paling terkenal berasal dari hadits Rasulullah SAW.

    Dari Ummu Farwah radhiyallahu ‘anha:

    “Rasulullah SAW ditanya, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab: Shalat pada awal waktunya.”
    (HR. Abu Dawud)

    Hadits ini memberikan jawaban yang sangat menarik.

    Banyak orang mengira amalan paling utama adalah sedekah besar, jihad, atau ibadah tertentu.

    Namun Rasulullah justru menyebut shalat di awal waktu sebagai salah satu amalan paling utama.

    Artinya, kualitas ibadah tidak hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dari kesungguhan seseorang menjaga waktunya.

    Mengapa Shalat Tepat Waktu Begitu Ditekankan?

    dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu

    Ada alasan yang sangat dalam.

    Ketika seseorang mendengar adzan lalu segera memenuhi panggilan Allah, ia sedang menunjukkan bahwa Allah lebih penting daripada aktivitas lainnya.

    Pekerjaan bisa ditunda.

    Pertemuan bisa dijadwalkan ulang.

    Urusan dunia bisa menunggu.

    Tetapi panggilan Allah tidak boleh disepelekan.

    Karena itulah para ulama menyebut bahwa menjaga shalat tepat waktu adalah salah satu tanda kejujuran iman seseorang.

    Dalil Waktu-Waktu Shalat dalam Al-Qur’an

    Dalil berikutnya terdapat dalam Surah Al-Isra ayat 78.

    Allah SWT berfirman:

    “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikanlah pula shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan oleh para malaikat.”

    Ayat ini menjelaskan rentang waktu berbagai shalat wajib.

    Menariknya, Allah memberikan perhatian khusus kepada shalat Subuh.

    Menurut para ulama, shalat Subuh memiliki keistimewaan karena disaksikan langsung oleh para malaikat.

    Karena itu tidak mengherankan jika banyak hadits memberikan perhatian besar pada pelaksanaan shalat Subuh tepat waktu.

    Penjelasan Rasulullah Tentang Batas Waktu Shalat

    dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu

    Rasulullah SAW menjelaskan waktu-waktu shalat secara rinci.

    Dalam hadits riwayat Muslim disebutkan:

    • Waktu Zuhur dimulai saat matahari tergelincir.
    • Waktu Ashar hingga matahari mulai menguning.
    • Waktu Maghrib hingga hilangnya mega merah.
    • Waktu Isya hingga pertengahan malam.
    • Waktu Subuh sejak terbit fajar hingga sebelum matahari terbit.

    Penjelasan ini menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan disiplin waktu.

    Setiap shalat memiliki jendela waktu yang jelas.

    Dan semakin awal seseorang mengerjakannya, semakin besar keutamaannya.

    Keutamaan Shalat Tepat Waktu Menurut Para Ulama

    Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal menjelaskan bahwa para ulama sepakat shalat di awal waktu merupakan amalan yang paling afdhal, kecuali beberapa kondisi khusus seperti Isya yang terkadang dianjurkan untuk diakhirkan dan Zuhur ketika cuaca sangat panas.

    Kesepakatan ulama ini semakin memperkuat pembahasan tentang dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu.

    Bahkan sejak generasi sahabat hingga ulama kontemporer, menjaga waktu shalat selalu menjadi perhatian utama.

    Nasihat Sayyidina Utsman bin Affan Tentang Shalat Tepat Waktu

    Ada satu atsar yang sangat menyentuh dari Khalifah Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.

    Beliau menyebut bahwa orang yang menjaga shalat lima waktu dan melaksanakannya tepat waktu akan memperoleh berbagai kemuliaan.

    Di antaranya:

    • Dicintai Allah SWT.
    • Dijaga malaikat.
    • Rumahnya diberkahi.
    • Dilembutkan hatinya.
    • Dimudahkan melewati Shirath.
    • Diselamatkan dari api neraka.

    Walaupun ini bukan hadits Nabi, nasihat tersebut menunjukkan bagaimana generasi sahabat memandang tinggi nilai menjaga shalat tepat waktu.

    Dampak Shalat Tepat Waktu dalam Kehidupan

    Selain mendapatkan pahala, shalat tepat waktu juga melatih karakter seorang Muslim.

    Seseorang menjadi lebih disiplin.

    Lebih teratur.

    Lebih menghargai waktu.

    Bahkan dalam beberapa kitab motivasi Islami disebutkan bahwa orang yang menjaga shalat tepat waktu sering merasakan ketenangan hati dan keberkahan hidup yang sulit dijelaskan dengan logika semata.

    Inilah mengapa pembahasan dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu selalu relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah kesibukan dan distraksi.

    Kenapa Ada Banyak Dalil Tentang Pentingnya Sholat Tepat Waktu?

    Jika Ayah Bunda perhatikan, dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu tersebar di banyak ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi SAW.

    Hal ini menunjukkan bahwa menjaga waktu shalat bukan sekadar perkara teknis ibadah.

    Allah ingin membentuk karakter seorang Muslim yang disiplin, taat, dan selalu mengutamakan perintah-Nya di atas urusan lainnya.

    Karena itu, ketika para ulama membahas dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu, mereka tidak hanya menjelaskan batas waktu shalat.

    Mereka juga menjelaskan bahwa ketepatan waktu dalam shalat merupakan cerminan kualitas hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.

    Semakin seseorang menjaga waktu sholat, semakin terlihat kesungguhannya dalam memenuhi panggilan Allah.

    Bahkan para sahabat Nabi sangat berhati-hati agar tidak menunda sholat tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

    Mereka memahami bahwa dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Menariknya lagi, banyak ulama menjelaskan bahwa orang yang konsisten menjaga shalat tepat waktu biasanya akan lebih mudah menjaga amal-amal kebaikan lainnya.

    Sebab kebiasaan menghormati waktu shalat akan melatih seseorang untuk lebih disiplin dalam seluruh aspek kehidupannya.

    Cara Praktis Menjaga Shalat Tepat Waktu

    Jika ingin mulai memperbaiki kebiasaan shalat, beberapa langkah sederhana berikut bisa dicoba:

    • Aktifkan pengingat adzan di ponsel.
    • Hentikan aktivitas ketika adzan berkumandang.
    • Biasakan menuju masjid lebih awal.
    • Susun jadwal harian berdasarkan waktu shalat.
    • Cari lingkungan yang mendukung kebiasaan shalat berjamaah.

    Sedikit demi sedikit, kebiasaan ini akan membentuk kedisiplinan spiritual yang luar biasa.

    Sebagaimana dakwah dan pembinaan umat yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire, kebiasaan menjaga shalat tepat waktu juga menjadi fondasi lahirnya generasi Muslim yang kuat secara iman dan sosial.

    Kesimpulan

    Jika mencari dalil tentang pentingnya sholat tepat waktu, maka Al-Qur’an dan hadits telah memberikan jawabannya dengan sangat jelas.

    Allah menetapkan waktu-waktu shalat secara khusus.

    Rasulullah SAW menjelaskan bahwa shalat di awal waktu termasuk amalan paling utama.

    Para ulama pun sepakat bahwa menjaga waktu shalat adalah salah satu bentuk ketaatan yang paling mulia.

    Karena itu, jangan hanya fokus pada mengerjakan shalat.

    Usahakan juga untuk menjaga waktunya.

    Sebab terkadang yang membedakan antara kebiasaan dan ibadah yang dicintai Allah adalah kesungguhan kita dalam memenuhi panggilan-Nya tepat pada waktunya.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Mengapa Kita Harus Shalat Tahajjud? Ini 4 Keutamaan Menurut Ustadz Adi Hidayat!

    Ada satu pertanyaan yang sering muncul di kalangan anak muda Muslim.

    Kalau shalat Tahajud hukumnya sunnah, mengapa begitu banyak ulama yang menjaga amalan ini sepanjang hidup mereka?

    Bahkan ada yang rela bangun di tengah malam saat orang lain masih terlelap.

    Ada yang menjadikannya rutinitas puluhan tahun tanpa pernah meninggalkannya.

    Lalu sebenarnya, mengapa kita harus shalat tahajjud?

    Dalam salah satu kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa Tahajud bukan sekadar ibadah tambahan. Ada rahasia besar yang Allah simpan di balik ibadah malam ini.

    Rahasia itulah yang membuat para ulama, orang saleh, dan hamba-hamba pilihan Allah begitu menjaga Tahajud.

    Apa Itu Shalat Tahajud?

    Sebelum membahas lebih jauh mengapa kita harus shalat tahajjud, mari pahami terlebih dahulu pengertiannya.

    Secara bahasa, Tahajud berasal dari kata yang menunjukkan aktivitas malam yang diawali dengan tidur terlebih dahulu.

    Karena itu tidak semua shalat malam disebut Tahajud.

    Menurut penjelasan Ustadz Adi Hidayat, seseorang baru disebut melaksanakan Tahajud jika ia tidur terlebih dahulu, kemudian bangun di malam hari untuk beribadah.

    Inilah yang membedakannya dengan Qiyamul Lail.

    Qiyamul Lail mencakup seluruh ibadah malam, baik sebelum maupun sesudah tidur.

    Sedangkan Tahajud lebih spesifik dan membutuhkan perjuangan yang lebih besar.

    Mungkin di situlah salah satu alasan mengapa kita harus shalat tahajjud, karena ada nilai kesungguhan yang tidak semua orang mampu menjaganya.

    Baca Juga : Apakah Wanita Boleh Shalat Jumat di Masjid? Sah Atau Tidak?

    Tahajud Adalah Ibadah Sunnah yang Menyempurnakan Kekurangan

    Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa Tahajud termasuk kategori nafilah atau ibadah tambahan.

    Artinya, Tahajud berfungsi menyempurnakan kekurangan yang mungkin masih ada dalam ibadah wajib kita.

    Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa amalan sunnah menjadi salah satu cara seorang hamba semakin dekat kepada Allah.

    Karena itu ketika seseorang bertanya mengapa kita harus shalat tahajjud, salah satu jawabannya adalah karena Tahajud menjadi sarana meningkatkan kualitas hubungan dengan Allah setelah menjalankan kewajiban utama.

    Dalil Tentang Shalat Tahajud

    Allah SWT berfirman:

    “Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
    (QS. Al-Isra: 79)

    Menurut Ustadz Adi Hidayat, ayat ini mengandung banyak rahasia luar biasa tentang keutamaan Tahajud.

    Bukan hanya pahala ibadah.

    Tetapi juga manfaat yang sangat nyata dalam kehidupan seorang Muslim.

    Keutamaan Pertama: Mendapatkan Maqam Mahmudah

    mengapa kita harus shalat tahajjud

    Ketika membahas mengapa kita harus shalat tahajjud, Ustadz Adi Hidayat menempatkan Maqam Mahmudah sebagai salah satu keutamaan terbesar.

    Maqam Mahmudah berarti kedudukan yang terpuji.

    Kedudukan yang terbaik menurut Allah.

    Menariknya, posisi terbaik ini tidak selalu berarti jabatan tinggi atau kekayaan melimpah.

    Bisa jadi Allah menempatkan seseorang pada pekerjaan yang tepat.

    Lingkungan yang baik.

    Pasangan yang saleh.

    Atau kehidupan yang membawa keberkahan.

    Allah lebih tahu posisi mana yang paling baik untuk setiap hamba-Nya.

    Dan Tahajud menjadi salah satu jalan untuk mendapatkan kedudukan istimewa tersebut.

    Keutamaan Kedua: Mendapatkan Bimbingan Dalam Setiap Langkah

    mengapa kita harus shalat tahajjud

    Pernah merasa bingung menentukan arah hidup?

    Tidak tahu harus memilih pekerjaan yang mana?

    Atau sedang menghadapi keputusan besar?

    Menurut Ustadz Adi Hidayat, salah satu alasan mengapa kita harus shalat tahajjud adalah karena Allah memberikan bimbingan dalam memulai berbagai urusan kehidupan.

    Dalam QS. Al-Isra ayat 80, Nabi Muhammad SAW diajarkan untuk memohon agar dimasukkan ke dalam segala urusan dengan cara yang baik dan dikeluarkan dengan cara yang baik pula.

    Tahajud menjadi salah satu sarana agar langkah hidup lebih terarah.

    Bukan artinya hidup bebas masalah.

    Tetapi Allah membimbing kita agar tidak salah mengambil keputusan.

    Keutamaan Ketiga: Allah Berikan Solusi Terbaik

    mengapa kita harus shalat tahajjud

    Ini bagian yang sering membuat banyak orang jatuh cinta pada Tahajud.

    Saat semua pintu terasa tertutup, Allah masih membuka satu pintu yang tidak pernah terkunci.

    Pintu itu ialaj doa di sepertiga malam.

    Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa Tahajud dapat menjadi wasilah datangnya solusi dari Allah.

    Bukan berarti Tahajud adalah “alat pengabul keinginan”.

    Tetapi karena saat Tahajud, hubungan antara hamba dan Rabb menjadi lebih-lebih dekat.

    Pada saat itulah kita berdoa dengan penuh ketenangan.

    Tak sedikit orang yang menemukan jalan keluar dari masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan, hingga urusan rezeki setelah menjaga sholat Tahajud secara konsisten.

    Karena itulah banyak ulama menjelaskan mengapa kita harus shalat tahajjud sebagai bentuk ikhtiar spiritual menghadapi berbagai persoalan hidup.

    Keutamaan Keempat: Mendapatkan Perlindungan Dari Allah

    Dalam kehidupannya, setiap manusia pasti menghadapi ujian.

    Ada yang diuji dengan fitnah.

    Ada yang diuji dengan tekanan pekerjaan.

    Ada yang diuji dengan masalah keluarga.

    Ada pula yang diuji dengan penyakit dan kesulitan ekonomi.

    Menurut apa yang dijelaskan oleh Ustadz Adi Hidayat, Shalat Tahajjud juga menjadi pelindung langsung dari Allah Ta’ala untuk hambanya.

    Ketika seseorang menjaga hubungan dengan Allah melalui ibadah malam, Allah memberikan penjagaan yang tidak selalu terlihat oleh mata manusia.

    Inilah salah satu jawaban paling kuat ketika ada yang bertanya mengapa kita harus shalat tahajjud.

    Karena tidak ada perlindungan yang lebih kuat daripada perlindungan dari Allah SWT.

    Mengapa Tahajud Sangat Istimewa Dibanding Shalat Sunnah Lain?

    Ada banyak sekali shalat sunnah yang bisa kita laksanakan.

    Namun Tahajud memiliki suatu hal yang berbeda.

    Saat mayoritas yang lain sedang tidur, hanya sedikit orang yang bangun untuk berdoa kepada Allah.

    Suasana sunyi.

    Gangguan lebih sedikit.

    Hati lebih mudah fokus.

    Karena itulah Tahajud sering disebut sebagai waktu terbaik untuk membangun koneksi yang lebih dekat dengan Allah.

    Ustadz Adi Hidayat bahkan menggambarkan Tahajud sebagai cara seorang Muslim membangun keyakinan bahwa:

    “Saya tidak sendirian menghadapi hidup ini. Saya punya Allah.”

    Cara Memulai Tahajud Bagi Pemula

    Jika selama ini belum pernah mencoba untuk rutin Tahajud, tidak perlu langsung memaksakan diri.

    Mulailah dari yang ringan.

    Beberapa langkah sederhana:

    • Tidur lebih awal.
    • Pasang alarm 30 menit sebelum Subuh.
    • Kerjakan 2 rakaat terlebih dahulu.
    • Perbanyak doa setelah shalat.
    • Jaga konsistensi meskipun sedikit.

    Allah lebih menyukai amalan yang rutin meskipun kecil.

    Tahajud dan Kepedulian Sosial

    Biasanya, Seseorang yang semakin dekat dengan Allah Ta’ala, tangannya akan semakin ringan untuk beribadah.

    Karena itu ibadah tidak berhenti di sajadah.

    Ia melahirkan kepedulian sosial yang nyata.

    Salah satu bentuknya adalah membantu program dakwah, pendidikan, dan kemanusiaan yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire. (@baitulmaalmuslimbillionaire)

    Ketika Tahajud membentuk hati yang lembut, sedekah menjadi salah satu buah dari kedekatan tersebut.

    Kesimpulan

    Jika masih ada yang bertanya mengapa kita harus shalat tahajjud, maka jawaban yang disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat sudah sangat jelas.

    Tahajud bukan sekedar ibadah sunnah biasa.

    Tahajud adalah jalan untuk:

    • Mendapatkan Maqam Mahmudah.
    • Mendapatkan bimbingan hidup dari Allah.
    • Mendapatkan solusi terbaik atas berbagai persoalan.
    • Mendapatkan perlindungan langsung dari Allah.

    Mungkin karena itulah para ulama begitu menjaga Tahajud sepanjang hidup mereka.

    Sebab di tengah malam yang sunyi, ada banyak rahasia pertolongan Allah yang tidak ditemukan pada waktu lainnya.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Kenapa Hati Merasa Jauh dari Allah? 3 Langkah Sederhana untuk Kembali Dekat dengan-Nya

    Pernah tidak, suatu malam saat semua aktivitas selesai, tiba-tiba muncul pertanyaan di dalam hati:

    “Kenapa hidup terasa kosong padahal semua terlihat baik-baik saja?”

    Shalat masih dilakukan, doa masih dipanjatkan, tetapi ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Hati terasa kering. Ibadah terasa hambar. Bahkan ketika mendengar ayat Al-Qur’an, tidak ada getaran yang biasanya hadir.

    Jika Anda sedang mengalami hal itu, jangan buru-buru menyalahkan keadaan.

    Menurut kajian Ustadz Hanan Attaki dan Ustadz Adi Hidayat, salah satu penyebab terbesar kenapa hati merasa jauh dari Allah adalah karena hubungan antara hamba dan Rabb-nya mulai tertutup oleh dosa, kelalaian, dan kurangnya penghayatan dalam beribadah.

    Kabar baiknya, kondisi ini bukan akhir dari segalanya.

    Selama masih hidup, pintu kembali kepada Allah selalu terbuka.

    Sumber :
    Jika merasa jauh dari ALLAH, dengarkan ini !! # Ustadz Adi Hidayat
    – MUHASABAH KETIKA HATI KITA MERASA JAUH DARI ALLAH – USTADZ HANAN ATTAKI, LC

    Kenapa Hati Merasa Jauh dari Allah? Mungkin Ini Penyebabnya

    kenapa hati merasa jauh dari allah
    Generated By AI

    Saat membahas kenapa hati merasa jauh dari Allah, Ustadz Hanan Attaki mengajak kita memulai dari satu hal yang sederhana: mengakui bahwa kita adalah manusia yang penuh kekurangan.

    Baca Juga : Apa Akibat Bagi Orang Yang Tidak Shalat? Masuk Surga atau Tidak?

    Tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari dosa.

    Ada yang pernah meninggalkan shalat.

    Ada yang pernah menyakiti orang tua.

    Ada yang pernah melakukan maksiat secara sembunyi-sembunyi.

    Ada pula yang perlahan menjauh dari majelis ilmu.

    Masalahnya bukan pada pernah berbuat dosa.

    Masalah terbesar adalah ketika seseorang tidak lagi merasa bersalah atas dosanya.

    Dosa yang terus menumpuk dapat membuat hati menjadi keras. Akibatnya, seseorang mulai kehilangan kenikmatan beribadah dan merasa jauh dari Allah.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Sesungguhnya apabila seorang hamba melakukan dosa, maka akan muncul satu titik hitam di hatinya.”
    (HR. Tirmidzi)

    Inilah salah satu jawaban paling mendasar dari pertanyaan kenapa hati merasa jauh dari Allah.

    Tanda-Tanda Hati Mulai Menjauh dari Allah

    Ustadz Hanan Attaki menjelaskan beberapa tanda yang sering muncul ketika hubungan seorang hamba dengan Allah mulai melemah.

    Malas Membaca Al-Qur’an

    Dulu mungkin kita semangat membuka mushaf.

    Sekarang Al-Qur’an hanya tersimpan rapi di rak.

    Bahkan beberapa hari berlalu tanpa satu ayat pun dibaca.

    Ketika Al-Qur’an mulai terasa berat untuk dibuka, itu bisa menjadi alarm untuk segera melakukan muhasabah.

    Sulit Khusyuk Saat Shalat

    Tubuh berdiri di hadapan Allah.

    Namun pikiran sibuk ke mana-mana.

    Baru takbir pertama, pikiran sudah memikirkan pekerjaan, pasangan, tugas kampus, atau media sosial.

    Kondisi ini sering menjadi tanda bahwa hati membutuhkan perhatian lebih.

    Mudah Marah dan Gelisah

    Hati yang dekat dengan Allah biasanya lebih mudah tenang.

    Sebaliknya, ketika hati mulai menjauh, emosi menjadi lebih sulit dikendalikan.

    Hal-hal kecil terasa mengganggu.

    Masalah sederhana terasa sangat berat.

    Jarang Datang ke Masjid atau Majelis Ilmu

    Lingkungan yang dahulu membuat hati nyaman justru mulai terasa asing.

    Padahal masjid adalah salah satu tempat terbaik untuk memperbaiki hubungan dengan Allah.

    Karena itulah memahami kenapa hati merasa jauh dari Allah perlu diawali dengan keberanian mengenali tanda-tandanya.

    Langkah Pertama: Berani Mengakui Dosa dan Bertaubat

    kenapa hati merasa jauh dari allah
    Generated By Ai

    Dalam kajiannya, Ustadz Hanan Attaki menekankan bahwa mengakui dosa bukanlah kehinaan.

    Justru itulah awal kesembuhan hati.

    Banyak orang ingin dekat dengan Allah tetapi enggan mengakui kesalahannya.

    Padahal Allah sangat mencintai hamba yang bertaubat.

    Allah SWT berfirman:

    “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
    (QS. Az-Zumar: 53)

    Perhatikan bagaimana Allah memanggil dengan kalimat “Wahai hamba-hamba-Ku”.

    Bukan “wahai para pendosa”.

    Bukan “wahai orang-orang yang bersalah”.

    Melainkan panggilan penuh kasih sayang.

    Pesan inilah yang ditekankan oleh Ustadz Hanan Attaki.

    Ketika kenapa hati merasa jauh dari Allah mulai menjadi pertanyaan besar dalam hidup kita, mungkin jawabannya adalah kita belum benar-benar kembali kepada-Nya melalui taubat yang sungguh-sungguh.

    Langkah Kedua: Bangun Hubungan dengan Al-Qur’an

    kenapa hati merasa jauh dari allah
    Generated By AI

    Menurut Ustadz Adi Hidayat, banyak orang bertanya kenapa hati merasa jauh dari Allah padahal mereka masih membaca Al-Qur’an.

    Jawabannya sering kali bukan karena kurang membaca.

    Tetapi karena bacaan itu belum sampai ke hati.

    Al-Qur’an bukan sekadar bacaan.

    Al-Qur’an adalah petunjuk hidup.

    Ustadz Adi Hidayat mencontohkan bagaimana Umar bin Khattab yang awalnya memusuhi Islam justru berubah total setelah tersentuh ayat-ayat Allah.

    Perubahan besar itu terjadi karena Al-Qur’an masuk ke dalam hati.

    Beliau juga mengajarkan dua komitmen sederhana:

    • Menghafal ayat yang dipelajari
    • Mengamalkan isi ayat tersebut

    Ketika Al-Qur’an mulai menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, perlahan hati akan kembali hidup.

    Langkah Ketiga: Perbaiki Shalat dan Perbanyak Sujud

    Jika ada satu tempat terbaik untuk mengadu kepada Allah, tempat itu adalah sajadah.

    Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban.

    Shalat adalah sarana untuk mencari solusi hidup.

    Saat membaca:

    “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”

    Kita sedang mengakui bahwa hanya Allah tempat bergantung.

    Ketika membaca:

    “Ihdinas shirathal mustaqim”

    Kita sedang memohon jalan keluar terbaik dari setiap persoalan.

    Karena itu salah satu alasan kenapa hati merasa jauh dari Allah adalah karena shalat hanya dilakukan sebagai rutinitas, bukan sebagai momen bertemu dengan Rabb semesta alam.

    Mulailah memperbaiki kualitas shalat sedikit demi sedikit.

    Kurangi terburu-buru.

    Pahami bacaan.

    Nikmati setiap sujud.

    Sering kali kedekatan dengan Allah dimulai dari satu sujud yang dilakukan dengan penuh kejujuran.

    Dekat dengan Allah Juga Harus Dekat dengan Kebaikan

    Orang yang sedang memperbaiki hubungannya dengan Allah biasanya juga terdorong untuk memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.

    Karena itu para ulama selalu mengajarkan keseimbangan antara ibadah pribadi dan kepedulian sosial.

    Salah satu bentuk nyata yang bisa dilakukan adalah memperbanyak sedekah dan membantu program kemaslahatan umat.

    Saat ini berbagai program sosial, pendidikan, dakwah, dan bantuan untuk masyarakat terus dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire sebagai sarana bagi umat Islam untuk menyalurkan amal terbaiknya.

    Kunjungi Instagram Resmi dari Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire disini : @baitulmaalmuslimbillionaire

    Kadang hati menjadi lebih tenang ketika kita tidak hanya fokus memperbaiki diri sendiri, tetapi juga membantu orang lain merasakan manfaat.

    Kesimpulan

    Jika Anda sedang bertanya kenapa hati merasa jauh dari Allah, jangan langsung berpikir bahwa Allah meninggalkan Anda.

    Bisa jadi Allah sedang mengundang Anda untuk kembali.

    Dari kajian Ustadz Hanan Attaki dan Ustadz Adi Hidayat, ada tiga langkah sederhana yang bisa segera dilakukan:

    1. Muhasabah dan mengakui dosa.
    2. Memperbanyak taubat dan istighfar.
    3. Menghidupkan kembali hubungan dengan Al-Qur’an dan shalat.

    Ingat, hati yang jauh dari Allah bukanlah hati yang gagal.

    Hati yang gagal adalah hati yang tidak mau kembali ketika Allah memanggilnya pulang.

    Dan kabar terbaiknya, panggilan itu masih terbuka hari ini.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Apakah Wanita Boleh Shalat Jumat di Masjid? Sah Atau Tidak?

    Masih banyak muslim atau muslimah yang bingung ketika melihat ada perempuan mengikuti shalat Jumat di masjid.

    Sebagian mengira hal itu tidak boleh. Sebagian lainnya menganggap wanita yang ikut shalat Jumat tetap wajib mengerjakan shalat Dzuhur setelah pulang ke rumah.

    Lalu sebenarnya bagaimana hukum Islam menjelaskan persoalan ini?

    Jika pertanyaannya adalah apakah wanita boleh shalat jumat di masjid, maka jawabannya cukup jelas: boleh dan sah. Namun ada beberapa rincian fiqih yang perlu dipahami agar tidak terjadi kesalahpahaman.

    Apakah Wanita Wajib Shalat Jumat?

    apakah wanita boleh shalat jumat dimasjid
    Goes To Masjid – Generate By AI

    Sebelum menjawab apakah wanita boleh shalat jumat di masjid, kita perlu memahami satu hal penting.

    Wanita tidak dibebani kewajiban melaksanakan shalat Jumat.

    Dalil yang sering dijadikan landasan adalah hadits Rasulullah SAW:

    “Shalat Jumat adalah kewajiban bagi setiap muslim secara berjamaah kecuali empat golongan: budak, wanita, anak kecil, dan orang sakit.”
    (HR. Abu Daud)

    Hadits ini menjelaskan bahwa kewajiban shalat Jumat tidak berlaku bagi perempuan.

    Hal ini juga ditegaskan dalam banyak kitab fiqih, termasuk Fathul Qorib yang menyebutkan bahwa salah satu syarat wajib shalat Jumat adalah laki-laki.

    Artinya, jika seorang muslimah memilih melaksanakan shalat Dzuhur di rumah pada hari Jumat, maka ia sudah menunaikan kewajibannya dan tidak berdosa sama sekali.

    Dalil Al-Qur’an Tentang Kewajiban Shalat Jumat

    Allah SWT berfirman:

    “Wahai orang-orang yang beriman, apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
    (QS. Al-Jumu’ah: 9)

    Ayat ini menjadi dasar kewajiban shalat Jumat.

    Namun para ulama menjelaskan bahwa kewajiban tersebut ditujukan kepada mereka yang memenuhi syarat wajib shalat Jumat, termasuk laki-laki yang mukim dan tidak memiliki uzur syar’i.

    Baca Juga : Kenapa Kita Harus Shalat? Bukan Sekadar Ritual, Tapi Kunci Solusi Kehidupan 

    Karena itulah ketika muncul pertanyaan apakah wanita boleh shalat jumat di masjid, jawabannya berbeda dengan pertanyaan “apakah wanita wajib shalat Jumat?”

    Tidak wajib, tetapi boleh.

    Apakah Wanita Boleh Shalat Jumat di Masjid Menurut Ulama?

    apakah wanita boleh shalat jumat dimasjid
    Sholu in Mosque – Generate By Ai

    Menariknya, para ulama tidak hanya menjelaskan bahwa wanita tidak wajib shalat Jumat.

    Mereka juga menjelaskan bahwa wanita tetap boleh menghadiri dan mengikuti shalat Jumat.

    Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) bahwa wanita tidak wajib shalat Jumat.

    Namun beliau juga menyebut adanya ijma’ bahwa apabila wanita menghadiri dan melaksanakan shalat Jumat, maka hal itu diperbolehkan.

    Pendapat serupa juga dijelaskan dalam kitab Bughyah Al-Mustarsyidin:

    “Diperkenankan bagi mereka yang tidak berkewajiban Jum’at seperti budak, musafir, dan wanita untuk melaksanakan shalat Jum’at sebagai pengganti Dzuhur, dan itu sudah mencukupi.”

    Dari sini semakin jelas bahwa jawaban dari pertanyaan apakah wanita boleh shalat jumat di masjid adalah boleh dan sah.

    Jika Wanita Ikut Shalat Jumat, Apakah Masih Harus Shalat Dzuhur?

    apakah wanita boleh shalat jumat di masjid

    Ini adalah pertanyaan yang paling sering muncul.

    Sebagian orang menganggap wanita tetap harus mengerjakan Dzuhur setelah mengikuti shalat Jumat.

    Padahal banyak ulama menjelaskan sebaliknya.

    Jika seorang wanita mengikuti shalat Jumat yang sah bersama imam dan jamaah Jumat, maka shalat Jumat tersebut sudah menggantikan Dzuhur.

    Dalam kitab Bughyah Al-Mustarsyidin bahkan disebutkan bahwa tidak perlu mengulanginya lagi dengan shalat Dzuhur karena seluruh syaratnya sudah terpenuhi.

    Syaikh Assim Al-Hakeem juga menjelaskan hal yang sama.

    Beliau menerangkan bahwa wanita memang tidak diwajibkan shalat Jumat dan lebih utama shalat Dzuhur di rumah.

    Namun apabila wanita hadir di masjid dan mengikuti shalat Jumat yang sah, maka shalatnya sah dan tidak perlu lagi melaksanakan Dzuhur.

    Jadi bagi yang masih bertanya apakah wanita boleh shalat jumat di masjid, jawabannya bukan hanya boleh, tetapi juga telah menggugurkan kewajiban Dzuhur apabila shalat Jumat tersebut dilaksanakan secara sah.

    Bolehkah Shalat Jumat Khusus Perempuan?

    Di sinilah banyak orang keliru memahami hukum.

    Sebagian mengira karena wanita boleh shalat Jumat, maka boleh juga membuat jamaah Jumat khusus perempuan dengan imam perempuan.

    Para ulama menjelaskan bahwa hal ini tidak diperbolehkan.

    Wanita boleh mengikuti shalat Jumat sebagai makmum dalam jamaah Jumat yang sah.

    Artinya:

    • Khutbah dipimpin khatib yang memenuhi syarat.
    • Imam Jumat memenuhi syarat.
    • Jamaah Jumat dilaksanakan sebagaimana ketentuan syariat.

    Jadi kebolehan wanita mengikuti Jumat bukan berarti wanita dapat menyelenggarakan shalat Jumat tersendiri khusus perempuan.

    Mana yang Lebih Utama Bagi Wanita?

    Sebagian ulama menjelaskan bahwa shalat wanita di rumah memiliki keutamaan tersendiri.

    Karena itu mayoritas muslimah tetap melaksanakan shalat Dzuhur di rumah pada hari Jumat.

    Namun apabila seorang wanita ingin menghadiri kajian, mendengarkan khutbah, memperoleh ilmu, dan mengikuti shalat Jumat di masjid dengan tetap menjaga adab syar’i, maka hal itu diperbolehkan.

    Tidak ada larangan yang melarang wanita hadir dalam jamaah Jumat selama menjaga aturan yang ditetapkan syariat.

    Hikmah Di Balik Keringanan Ini

    Tentang apakah wanita boleh shalat jumat di masjid, islam memberikan kemudahan bagi perempuan karena kondisi dan tanggung jawab yang berbeda dengan laki-laki.

    Ada yang harus mengurus anak.

    Ada yang sedang hamil.

    Ada yang memiliki aktivitas rumah tangga yang padat.

    Karena itulah syariat tidak mewajibkan shalat Jumat kepada perempuan.

    Namun ketika seorang muslimah memiliki kesempatan menghadiri masjid dan mengikuti khutbah Jumat, syariat juga membuka pintu kemudahan baginya.

    Prinsip inilah yang menunjukkan betapa Islam sangat memperhatikan kondisi umatnya.

    Sebagaimana dalam urusan ibadah lainnya, semangat menebarkan manfaat kepada sesama juga menjadi bagian penting dari ajaran Islam. Nilai kepedulian ini terus dihidupkan melalui berbagai program dakwah, pendidikan, dan sosial yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire untuk membantu memperkuat peran umat dalam kebaikan.

    Kunjungi Instagram Resmi Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire : @baitulmaalmuslimbillionaire

    Kesimpulan

    Jika masih ada yang bertanya apakah wanita boleh shalat jumat di masjid, maka kesimpulannya adalah:

    • Wanita tidak wajib melaksanakan shalat Jumat.
    • Wanita boleh menghadiri dan mengikuti shalat Jumat di masjid.
    • Shalat Jumat wanita sah menurut para ulama.
    • Jika wanita telah melaksanakan shalat Jumat yang sah, maka tidak wajib lagi mengerjakan shalat Dzuhur.
    • Wanita tidak boleh membuat jamaah Jumat khusus perempuan dengan imam dan khatib perempuan.
    • Wanita boleh menjadi makmum dalam jamaah Jumat yang sah bersama kaum laki-laki.

    Dengan memahami penjelasan ini, semoga para muslimah tidak lagi bingung ketika menghadapi pertanyaan seputar hukum shalat Jumat bagi perempuan.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Apa Akibat Bagi Orang Yang Tidak Shalat? Masuk Surga atau Tidak?

    Bayangkan jika ada satu amalan yang menjadi pembeda antara keselamatan dan penyesalan di akhirat.

    Lalu bayangkan amalan itu bukan sedekah miliaran rupiah, bukan haji berkali-kali, bukan pula hafalan kitab yang tebal.

    Amalan itu adalah shalat.

    Pertanyaan apa akibat bagi orang yang tidak shalat bukanlah pertanyaan ringan. Sebab Al-Qur’an dan hadits memberikan perhatian yang sangat besar terhadap ibadah yang satu ini.

    Dalam beberapa kajian, Ustadz Adi Hidayat dan Ustadz Khalid Basalamah sama-sama menegaskan bahwa shalat bukan sekadar ritual harian. Shalat adalah fondasi utama kehidupan seorang Muslim.

    Shalat Adalah Amal Pertama yang Akan Dihisab

    apa akibat bagi orang yang tidak shalat
    Shalat Berjamaah – By Pinterest

    Sebelum membahas apa akibat bagi orang yang tidak shalat, kita perlu memahami posisi shalat dalam Islam.

    Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat istimewa karena menjadi satu-satunya ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Isra Mi’raj.

    Rasulullah SAW bersabda:

    “Amalan pertama yang dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya.”

    Karena itu, ketika seseorang menjaga shalatnya, maka amalan lainnya memiliki fondasi yang kuat.

    Sebaliknya, jika shalatnya rusak atau bahkan ditinggalkan, maka urusan amal yang lain ikut terancam.

    Baca Juga : Ini 2 Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah Menurut Ustadz Abdul Somad

    Apa Akibat Bagi Orang Yang Tidak Shalat Menurut Al-Qur’an?

    Salah satu ayat yang sering dibahas para ulama terkait apa akibat bagi orang yang tidak shalat terdapat dalam Surah Al-Muddassir.

    Allah menggambarkan dialog penghuni surga dengan penghuni neraka:

    “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

    Mereka menjawab:

    “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan shalat.”

    Ayat ini sangat mengguncang.

    Sebab ketika Allah menyebut alasan mereka masuk ke dalam Saqar, yang disebut pertama kali adalah meninggalkan shalat.

    Inilah salah satu jawaban paling kuat ketika ada yang bertanya apa akibat bagi orang yang tidak shalat.

    Al-Qur’an menunjukkan bahwa meninggalkan shalat bukan perkara kecil.

    Kesibukan Dunia Sering Menjadi Penyebab Lalai Shalat

    apa akibat bagi orang yang tidak shalat
    Illustrasion of Stress – By Pinterest

    Dalam salah satu kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan fenomena manusia modern yang begitu sibuk dengan urusan dunia.

    Kuliah.

    Karier.

    Bisnis.

    Target finansial.

    Semuanya terasa mendesak.

    Namun banyak orang akhirnya mengorbankan shalat demi mengejar agenda duniawi.

    Padahal kesibukan yang baik adalah kesibukan yang tidak membuat seseorang melanggar perintah Allah.

    Banyak orang terlihat sukses di dunia, tetapi mengalami penyesalan besar di akhirat karena lalai menjaga shalat.

    Karena itu ketika membahas apa akibat bagi orang yang tidak shalat, salah satu akibat paling berbahaya adalah hilangnya orientasi hidup yang benar.

    Ancaman Berat Bagi Orang Yang Sengaja Meninggalkan Shalat

    Menurut penjelasan Ustadz Khalid Basalamah, para ulama membedakan dua kondisi.

    1. Mengingkari Kewajiban Shalat

    Jika seseorang menolak kewajiban shalat dan menganggap shalat tidak wajib, maka perkara ini sangat berbahaya dan dapat menyeret kepada kekufuran.

    2. Mengakui Wajib Tetapi Sengaja Meninggalkan

    Kondisi ini juga sangat serius.

    Orang tersebut tetap berada dalam dosa besar dan mendapat ancaman keras dalam Al-Qur’an maupun hadits.

    Karena itu jawaban dari pertanyaan apa akibat bagi orang yang tidak shalat tidak bisa dianggap sepele.

    Meninggalkan shalat secara sengaja termasuk salah satu dosa terbesar dalam Islam.

    Kisah Mengerikan Tentang Orang Yang Melalaikan Shalat

    Dalam kajian yang disampaikan Ustadz Khalid Basalamah, beliau menjelaskan hadits tentang mimpi Rasulullah SAW.

    Di dalam mimpi tersebut, Nabi melihat seseorang yang kepalanya dihancurkan dengan batu besar berulang kali.

    Kemudian kepalanya kembali utuh dan dihancurkan lagi.

    Rasulullah SAW dijelaskan bahwa orang tersebut adalah orang yang hafal Al-Qur’an tetapi melalaikan shalat wajib.

    Gambaran ini menunjukkan betapa besar ancaman bagi mereka yang mengetahui kebenaran tetapi tidak mengamalkannya.

    Ketika seseorang bertanya apa akibat bagi orang yang tidak shalat, hadits ini menjadi salah satu peringatan yang sangat kuat.

    Shalat Ashar Mendapat Perhatian Khusus

    Menariknya, Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada shalat Ashar.

    Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa orang yang meninggalkan shalat Ashar dengan sengaja berada dalam bahaya besar.

    Karena itu para ulama sering mengingatkan agar kaum Muslimin tidak menyepelekan waktu Ashar yang sering bertepatan dengan jam kerja atau aktivitas sore hari.

    Banyak orang sebenarnya tidak meninggalkan semua shalat.

    Tetapi mereka sering mengabaikan Ashar.

    Padahal ini termasuk bentuk kelalaian yang harus diwaspadai.

    Apakah Orang Yang Tidak Shalat Masih Bisa Masuk Surga?

    apa akibat bagi orang yang tidak shalat
    Goes To Masjid – By Ai

    Ini pertanyaan yang sering muncul ketika membahas apa akibat bagi orang yang tidak shalat.

    Jawabannya membutuhkan rincian.

    Jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajibannya, para ulama menjelaskan bahwa perkaranya sangat berat.

    Namun jika seseorang masih meyakini shalat itu wajib tetapi terjatuh dalam kemalasan dan dosa, maka pintu taubat masih terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan.

    Allah SWT berfirman:

    “Katakanlah, wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
    (QS. Az-Zumar: 53)

    Karena itu artikel ini bukan untuk membuat putus asa dan menakut-nakuti dari pertanyaan apa akibat bagi orang yang tidak shalat.

    Justru untuk mengajak kembali kepada shalat sebelum terlambat.

    Cara Mulai Menjaga Shalat Kembali

    Jika selama ini shalat masih bolong-bolong, jangan menunggu menjadi sempurna.

    Mulailah hari ini.

    Ustadz Adi Hidayat menyarankan agar seorang Muslim membuat agenda hidup yang jelas dan menjadikan shalat sebagai pusat aktivitasnya.

    Beberapa langkah sederhana:

    • Pasang alarm adzan.
    • Prioritaskan shalat di awal waktu.
    • Catat target shalat harian.
    • Cari teman yang sama-sama menjaga shalat.
    • Biasakan shalat berjamaah di masjid.

    Setelah shalat mulai terjaga, tambahkan amalan sosial seperti sedekah dan membantu sesama.

    Program-program yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire menjadi salah satu sarana bagi umat Islam untuk menggabungkan ibadah pribadi dengan kepedulian sosial yang nyata.
    Kunjungi Instagram Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire Disini : @baitulmaalmuslimbillionaire

    Kesimpulan

    Jika ditanya apa akibat bagi orang yang tidak shalat, maka jawabannya sangat serius.

    Berdasarkan Al-Qur’an, hadits, dan penjelasan para ulama:

    • Shalat adalah amal pertama yang dihisab.
    • Meninggalkan shalat termasuk dosa besar.
    • Orang yang lalai shalat mendapat ancaman dalam Al-Qur’an.
    • Kesibukan dunia tidak dapat menjadi alasan meninggalkan shalat.
    • Pintu taubat tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali.

    Karena pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukanlah apakah kita sibuk atau tidak.

    Tetapi apakah ketika kematian datang, kita masih membawa shalat yang terjaga atau justru meninggalkannya di belakang.

    Sumber :
    Inilah Ancaman Orang yang Meninggalkan Shalat Secara Sengaja! | Ustadz Khalid Basalamah
    – Akibat Meninggalkan Sholat – Khalid basalamah
    – Sesibuk Apapun Jangan Sampai Meninggalkan Sholat! – Ustadz Adi Hidayat Lc., MA

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Ini 2 Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah Menurut Ustadz Abdul Somad

    Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah – Banyak orang ingin lebih dekat dengan Allah.

    Ada yang memperbanyak doa.

    Ada yang rajin mengikuti kajian.

    Ada juga yang mencoba berbagai amalan yang beredar di media sosial.

    Namun muncul satu pertanyaan penting.

    Apa sebenarnya cara mendekatkan diri kepada Allah yang benar menurut para ulama?

    Dalam salah satu kajiannya, Ustadz Abdul Somad menjelaskan bahwa jalan menuju kedekatan dengan Allah tidak rumit, tetapi juga tidak instan.

    Beliau menyebut ada dua jalur utama yang harus ditempuh oleh seorang Muslim, yaitu ilmu dan amal.

    Dua hal inilah yang menjadi pondasi utama dalam perjalanan seorang hamba untuk mengenal dan mendekat kepada Allah Ta’ala.

    Sumber : UAS Ungkap Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah | Kajian Spesial Subuh Ramadan 1443 H

    Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah yang Pertama: Melalui Ilmu

    cara mendekatkan diri kepada allah
    Ustadz Abdul Somad

    Menurut Ustadz Abdul Somad, perjalanan menuju Allah dimulai dari ilmu.

    Sebab seseorang tidak mungkin mencintai sesuatu yang tidak dikenalnya.

    Semakin seseorang mengenal Allah melalui Al-Qur’an, hadits, dan kajian para ulama, maka semakin besar rasa cinta dan ketundukannya kepada Allah.

    Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”
    (QS. Fatir: 28)

    Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu menjadi pintu menuju rasa takut, cinta, dan penghambaan kepada Allah.

    Ketika membahas cara mendekatkan diri kepada Allah, ilmu bukan sekadar menambah wawasan.

    Ilmu adalah cahaya yang membimbing seseorang agar tidak tersesat dalam beribadah.

    Ilmu Membimbing Hati Mengenal Allah

    Dalam kajian tersebut, Ustadz Abdul Somad juga menjelaskan perbedaan antara pendekatan logika dan pendekatan tasawuf.

    Sebagian orang berusaha mencari Tuhan melalui perdebatan filsafat dan logika.

    Sementara dalam tradisi tasawuf yang lurus, seorang hamba lebih fokus membersihkan hati, memperbaiki ibadah, dan tunduk kepada Allah hingga Allah memperkenalkan kebesaran-Nya kepada hamba tersebut.

    Karena itulah cara mendekatkan diri kepada Allah tidak cukup hanya dengan membaca teori.

    Ilmu harus melahirkan ketundukan dan penghambaan.

    Cara Mendekatkan Diri Kepada Allah yang Kedua: Melalui Amal

    cara mendekatkan diri kepada allah
    Menimba Ilmu – By Pinterest

    Setelah ilmu, jalan kedua adalah amal.

    Inilah bagian yang sering menjadi pembeda antara orang yang sekadar tahu dengan orang yang benar-benar dekat kepada Allah.

    Ustadz Abdul Somad mengutip hadits qudsi yang sangat terkenal.

    Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah berfirman:

    “Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.”
    (HR. Bukhari)

    Hadits ini menjadi salah satu dalil paling kuat tentang cara mendekatkan diri kepada Allah.

    Menariknya, Allah tidak hanya menyebut ibadah wajib.

    Allah secara khusus menyebut amalan sunnah sebagai jalan menuju cinta-Nya.

    Mengapa Ibadah Sunnah Sangat Istimewa?

    Banyak anak muda berpikir bahwa ibadah sunnah hanyalah pelengkap.

    Padahal menurut Ustadz Abdul Somad, ibadah sunnah merupakan sarana untuk meraih mahabbah atau cinta Allah.

    Ketika Allah sudah mencintai seorang hamba, hidupnya akan dibimbing oleh Allah.

    Pendengarannya dijaga.

    Pandangannya dijaga.

    Langkah-langkahnya diarahkan menuju kebaikan.

    Karena itu jika sedang mencari cara mendekatkan diri kepada Allah, mulailah dengan memperbanyak ibadah sunnah secara bertahap.

    Misalnya:

    • Shalat rawatib
    • Shalat dhuha
    • Puasa Senin Kamis
    • Puasa Nabi Daud
    • Sedekah rutin
    • Membaca Al-Qur’an harian
    • Dzikir pagi petang
    Baca Juga : Kenapa Kita Harus Shalat? Bukan Sekadar Ritual, Tapi Kunci Solusi Kehidupan 

    Riyadhah: Melatih Diri Agar Lebih Dekat Kepada Allah

    Dalam kajiannya, Ustadz Abdul Somad menyebut istilah riyadhah.

    Riyadhah berarti latihan.

    Bukan latihan fisik seperti olahraga, tetapi latihan jiwa untuk mengendalikan hawa nafsu.

    Salah satu bentuk riyadhah yang paling sering dilakukan para ulama adalah puasa sunnah.

    Ketika seseorang berpuasa, ia sedang melatih dirinya untuk mengatakan tidak kepada keinginan-keinginan yang sebenarnya mampu ia lakukan.

    Di sinilah letak kekuatan puasa.

    Bukan sekadar menahan lapar.

    Tetapi melatih hati agar lebih tunduk kepada Allah.

    Karena itu puasa menjadi salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah yang sangat dianjurkan.

    Jangan Tinggalkan Syariat Saat Mencari Kedekatan Dengan Allah

    cara mendekatkan diri kepada allah
    Tasbih dan Tangan By Pinterest

    Salah satu pesan paling penting dari kajian Ustadz Abdul Somad adalah tentang syariat.

    Beliau mengingatkan bahwa pengalaman spiritual apa pun harus selalu ditimbang dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

    Kadang seseorang merasa mendapatkan ilham tertentu.

    Kadang merasa mendapatkan pengalaman batin yang luar biasa.

    Namun jika bertentangan dengan syariat, maka hal tersebut wajib ditolak.

    Karena itu cara mendekatkan diri kepada Allah tidak boleh keluar dari aturan Islam.

    Semakin dekat seseorang kepada Allah, seharusnya semakin kuat pula komitmennya terhadap syariat.

    Bukan sebaliknya.

    Belajar dari Imam Al-Ghazali

    Dalam kajian tersebut, Ustadz Abdul Somad juga menyinggung kisah Imam Al-Ghazali.

    Beliau adalah ulama besar yang pernah mencapai posisi tinggi sebagai akademisi dan guru.

    Namun pada suatu masa, Imam Al-Ghazali memilih meninggalkan berbagai kemewahan dunia untuk fokus memperbaiki hubungan dengan Allah.

    Beliau melakukan khalwah dan muhasabah dalam waktu yang panjang.

    Meski demikian, Imam Al-Ghazali tidak pernah meninggalkan syariat.

    Inilah pelajaran besar bagi siapa saja yang sedang mencari cara mendekatkan diri kepada Allah.

    Semakin tinggi pengalaman spiritual seseorang, semakin kuat pula pegangannya terhadap Al-Qur’an dan Sunnah.

    Istiqomah Lebih Baik Daripada Seribu Karomah

    Pada akhir kajiannya, Ustadz Abdul Somad menyampaikan satu kalimat yang sangat dalam.

    “Satu istiqomah lebih baik daripada seribu karomah.”

    Banyak orang kagum pada hal-hal luar biasa.

    Namun para ulama lebih kagum kepada orang yang istiqomah.

    Sebab istiqomah menunjukkan bahwa seseorang benar-benar taat kepada Allah setiap hari.

    Shalatnya terjaga.

    Akhlaknya terjaga.

    Ibadahnya terus berjalan meski tidak dilihat orang lain.

    Karena itu jika bertanya cara mendekatkan diri kepada Allah, jangan sibuk mencari amalan yang aneh atau spektakuler.

    Mulailah dari hal sederhana yang bisa dijaga secara konsisten.

    Cara Praktis Mendekatkan Diri Kepada Allah Mulai Hari Ini

    Berdasarkan penjelasan Ustadz Abdul Somad, berikut langkah yang bisa langsung dilakukan:

    1. Luangkan waktu belajar Al-Qur’an dan ilmu agama setiap hari.
    2. Perbaiki kualitas shalat wajib.
    3. Tambahkan satu ibadah sunnah yang mampu dijaga secara rutin.
    4. Biasakan puasa sunnah sebagai latihan jiwa.
    5. Perbanyak dzikir dan istighfar.
    6. Bersedekah secara konsisten.
    7. Jaga istiqomah meskipun amalan masih sedikit.

    Program sosial umat yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire juga menjadi salah satu sarana bagi Muslim untuk memperbanyak amal saleh melalui sedekah, dakwah, pendidikan, dan kepedulian sosial yang berkelanjutan.

    Kunjungi Instagram Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire disini : @baitulmaalmuslimbillionaire

    Kesimpulan

    Jika merujuk pada kajian Ustadz Abdul Somad, maka cara mendekatkan diri kepada Allah dapat diringkas menjadi dua jalur utama.

    Pertama, melalui ilmu.

    Kedua, melalui amal.

    Ilmu membuat kita mengenal Allah dengan benar.

    Amal membuat kita semakin dicintai Allah.

    Kemudian semua itu dijaga dengan istiqomah dan tetap berada dalam koridor syariat.

    Karena pada akhirnya, tujuan terbesar seorang Muslim bukan sekadar mengetahui tentang Allah.

    Tetapi menjadi hamba yang dicintai oleh Allah Ta’ala.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Kenapa Kita Harus Shalat? Bukan Sekadar Ritual, Tapi Kunci Solusi Kehidupan 

    Suatu malam, seorang anak muda bertanya kepada gurunya.

    “Kalau Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan apapun dari kita, kenapa kita harus shalat?”

    Pertanyaan itu sebenarnya pernah muncul di benak banyak orang.

    Sebagian menganggap shalat hanya kewajiban yang harus ditunaikan agar tidak berdosa. Sebagian lagi melihatnya sebagai rutinitas harian yang terus berulang.

    Padahal ketika para ulama membahas fiqih dan hikmah shalat, jawabannya jauh lebih dalam dari sekadar “karena diperintah”.

    Jika ditanya kenapa kita harus shalat, maka jawabannya bukan hanya karena shalat adalah kewajiban. Shalat adalah hadiah dari Allah yang dirancang untuk membantu manusia menghadapi hidup.

    Inilah salah satu pesan yang sering disampaikan oleh Ustadz Adi Hidayat dalam berbagai kajiannya tentang fiqih shalat.

    Sumber : [Kajian Musawarah] Fiqh Sholat | Mengapa Kita Sholat? Hikmah Al-Fatihah Eps Akhir – Ust. Adi Hidayat

    Shalat Adalah Bukti Nyata Keimanan Seorang Muslim

    kenapa kita harus shalat
    Illustrasion By AI

    Ketika seseorang mengucapkan syahadat:

    “Laa ilaaha illallah”

    ia sedang mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang berhak disembah.

    Namun pengakuan itu memerlukan bukti.

    Kita sebagai seorang muslim harus paham serta belajar bahwa ini juga menjadi salah satu alasan kenapa kita harus shalat.

    Shalat menjadi pembuktian bahwa syahadat yang diucapkan bukan sekadar kata-kata.

    Allah SWT berfirman:

    “Dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.”
    (QS. Thaha: 14)

    Melalui shalat, seorang Muslim menunjukkan bahwa hubungannya dengan Allah bukan hanya di lisan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.

    Karena itu alasan diwajibkannya shalat bukan untuk kepentingan Allah, melainkan untuk membangun kualitas keimanan manusia itu sendiri.

    Kenapa Kita Harus Shalat? Karena Allah Ingin Kita Meraih Falah

    kenapa kita harus shalat
    Illustrasion By AI

    Dalam kajiannya, Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa salah satu tujuan besar shalat adalah mengantarkan manusia menuju Falah.

    Secara bahasa فلاح artinya berhasil dalam melakukan sesuatu. 

    Namun, Falah yang dibahas dalam kajian UAH memiliki makna yang lebih dalam.

    Falah bukan sekadar bahagia di dunia.

    Falah adalah perpaduan antara:

    • ketenangan jiwa,
    • kebahagiaan hati,
    • keberhasilan hidup,
    • dan keberkahan yang dirasakan secara menyeluruh.

    Banyak orang sukses secara materi tetapi hidupnya penuh kecemasan.

    Sebaliknya, ada yang hidup sederhana namun hatinya tenang.

    Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati lahir dari hubungan yang baik dengan Allah.

    Karena itulah ketika membahas kenapa kita harus shalat, jawabannya berkaitan erat dengan kebutuhan jiwa manusia untuk memperoleh ketenangan yang hakiki.

    Al-Fatihah Mengajarkan Bahwa Shalat Adalah Tempat Mencari Solusi

    Salah satu bagian paling menarik dalam kajian Ustadz Adi Hidayat adalah penjelasannya tentang surat Al-Fatihah.

    Banyak orang membaca Al-Fatihah setiap hari, tetapi belum tentu memahami maknanya.

    Perhatikan ayat:

    “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”

    Artinya:

    “Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

    Ayat ini menjelaskan bahwa shalat bukan hanya tempat beribadah.

    Shalat juga menjadi tempat meminta bantuan kepada Allah.

    Karena itu kenapa kita harus shalat tidak bisa dilepaskan dari kebutuhan manusia terhadap pertolongan Allah.

    Saat hati sedang gelisah.

    Saat pekerjaan terasa berat.

    Saat keluarga menghadapi masalah.

    Saat masa depan terasa tidak pasti.

    Shalat menjadi ruang paling aman untuk mengadukan semuanya kepada Allah.

    Tidak ada biaya.

    Tidak ada antrean.

    Tidak ada batasan waktu.

    Baca Juga : Ada Berapa Rukun Shalat dan Apa Saja? 13, 17 atau 18 Rukun Shalat?

    Ihdinas Siratal Mustaqim Bukan Sekadar Meminta Petunjuk

    Masih dalam surat Al-Fatihah, kita membaca:

    “Ihdinas siratal mustaqim”

    Sebagian besar orang menerjemahkannya sebagai:

    “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

    Namun menurut penjelasan para ulama, maknanya lebih luas.

    Bukan hanya sekedar meminta pertolongan dari masalah hidup semata.

    Kita memohon solusi yang paling lurus, paling baik, dan paling selamat.

    Karena itulah shalat bukan sekadar aktivitas fisik.

    Di dalamnya terdapat dialog spiritual yang sangat mendalam.

    Ketika seseorang memahami makna ini, pertanyaan kenapa kita harus shalat perlahan berubah menjadi:

    “Bagaimana mungkin saya menjalani hidup tanpa shalat?”

    Empat Golongan yang Menjadi Panduan Hidup dalam Shalat

    Pada bagian akhir Al-Fatihah, kita memohon agar mengikuti jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah.

    Allah menjelaskan kelompok tersebut dalam QS. An-Nisa ayat 69.

    Mereka adalah:

    1. Para Nabi

    Mereka menjadi teladan utama dalam ketaatan dan kesabaran.

    2. Para Shiddiqin

    Orang-orang yang langsung membenarkan dan mengamalkan kebenaran.

    Contohnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

    3. Para Syuhada

    Mereka yang mengabdikan seluruh kehidupannya untuk Allah.

    Bukan hanya saat ibadah, tetapi juga saat bekerja dan berkarya.

    4. Para Salihin

    Orang-orang yang menjaga akhlak, ucapan, dan perbuatannya agar selalu baik.

    Ketika membaca Al-Fatihah dalam shalat, kita sebenarnya sedang meminta agar hidup mengikuti jejak empat golongan mulia tersebut.

    Kenapa Kita Harus Shalat di Tengah Kesibukan Anak Muda?

    Banyak anak muda merasa waktu mereka habis untuk kuliah, pekerjaan, bisnis, atau aktivitas lainnya.

    Namun justru karena itulah shalat menjadi semakin dibutuhkan.

    Shalat membantu manusia berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

    Lima kali sehari Allah mengundang hamba-Nya untuk kembali mengingat tujuan hidup.

    Bukan untuk mengurangi produktivitas.

    Sebaliknya, untuk mengembalikan fokus dan ketenangan.

    Sering kali masalah terasa berat bukan karena tidak ada jalan keluar, tetapi karena hati terlalu lelah untuk melihat solusi.

    Shalat membantu menenangkan hati agar mampu berpikir lebih jernih.

    Shalat dan Kepedulian Sosial Tidak Bisa Dipisahkan

    kenapa kita harus shalat
    Illustrasion By AI

    Menariknya, shalat yang benar tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah.

    Shalat juga melahirkan kepedulian terhadap sesama.

    Orang yang rutin menjaga shalat biasanya lebih mudah tersentuh melihat kesulitan orang lain.

    Karena itu dalam sejarah Islam, ibadah selalu berjalan berdampingan dengan amal sosial.

    Semangat inilah yang terus dihidupkan melalui berbagai program pendidikan, santunan, dakwah, dan pemberdayaan umat yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire.

    Kunjungi Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire disini : @baitulmaalmuslimbillionaire

    Sebab tujuan ibadah bukan hanya memperbaiki diri sendiri, tetapi juga membawa manfaat bagi masyarakat sekitar.

    Kesimpulan

    Jika masih ada yang bertanya kenapa kita harus shalat, jawabannya jauh lebih dalam daripada sekadar kewajiban.

    Shalat adalah:

    • bukti nyata keimanan,
    • sarana mendapatkan pertolongan Allah,
    • tempat mencari solusi kehidupan,
    • jalan menuju falah atau kebahagiaan sejati,
    • sekaligus sarana membentuk karakter yang lebih baik.

    Karena itu shalat bukan beban yang memberatkan manusia.

    Shalat adalah kebutuhan yang Allah berikan agar manusia mampu menjalani hidup dengan lebih tenang, lebih kuat, dan lebih dekat kepada-Nya.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Peran Masjid dalam Kehidupan Umat Islam: 5 Peran Masjid Pada Zaman Rasulullah SAW Dahulu

    Bayangkan jika masjid hanya dibuka saat adzan lalu kembali sepi setelah shalat selesai.

    Tidak ada kajian. Tidak ada pembinaan umat. Tidak ada kegiatan sosial. Tidak ada bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan.

    Sayangnya, kondisi seperti ini masih ditemukan di sebagian tempat.

    Padahal jika melihat sejarah Islam, peran masjid dalam kehidupan umat Islam jauh lebih besar daripada sekadar tempat menunaikan shalat berjamaah.

    Sejak awal berdirinya masyarakat Islam di Madinah, Rasulullah SAW menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan umat. Dari masjid lahir generasi sahabat yang kuat iman, ilmu, dan kepeduliannya kepada sesama.

    Lalu sebenarnya bagaimana peran masjid dalam kehidupan umat Islam pada zaman Rasulullah SAW?

    Berdasarkan Kajian Ustadz Salim A. Fillah dalam pembahasannya di Youtube “Djuguran Ngaji” dengan tema judul “5 Fungsi Masjid Pada Zaman Rasulullah” terdapat 5 fungsi serta peran Masjid Pada Zaman Rasulullah yang menyebabkan Islam bisa berkembang besar dan pesat.

    1. Masjid Sebagai Tempat Ibadah dan Penguatan Keimanan

    peran masjid dalam kehidupan umat islam
    Illustrasion By AI

    Fungsi pertama dan paling utama tentu sebagai tempat beribadah kepada Allah SWT.

    Allah SWT berfirman:

    “Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”
    (QS. At-Taubah: 18)

    Pada masa Rasulullah SAW, masjid menjadi tempat shalat berjamaah lima waktu, shalat Jumat, shalat Id, hingga berbagai ibadah lainnya.

    Namun yang menarik, aktivitas ibadah tersebut tidak berhenti pada ritual semata.

    Masjid menjadi tempat lahirnya ketaqwaan, kedisiplinan, serta persaudaraan antara kaum Muslimin. Setiap hari para sahabat berkumpul, saling mengenal, dan memperkuat ukhuwah Islamiyah.

    2. Masjid Sebagai Pusat Pendidikan dan Penyebaran Ilmu

    peran masjid dalam kehidupan umat islam
    Illustrasion By AI

    Jika saat ini banyak kampus, sekolah, dan lembaga pendidikan Islam, pada masa Rasulullah SAW salah satu pusat pembelajaran terbesar justru berada di masjid.

    Saat itu, pojokan masjid disebut dengan “Suffah” yang dimana difungsikan sebagai tempat tinggal para sahabat yang jomblo dan miskin. Para Sahabat yang tinggal di Suffah disebuth dengan Ahlus Suffah.

    Para Sahabat yang tinggal di pojokan Masjid menggunakan tempat tersebut sebagai tempat belajar, mengajar, mengaji, bertukar pikiran.

    Para Sahabat juga mengembangkan hadits dengan berdiskusi antara sesama dilakukan di pojokan Masjid tersebut. Mereka juga melayani sahabat-sahabat atau masyarakat pada saat itu dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Para Masyarakat lainnya.

    Para sahabat belajar Al-Qur’an, hadits, fiqih, hingga berbagai ilmu langsung dari Rasulullah SAW di Masjid Nabawi.

    Melalui aktivitas tersebut, masjid menjadi pusat lahirnya generasi pendidik, ulama, dan pemimpin umat.

    Ketika membahas peran masjid dalam kehidupan umat Islam, fungsi pendidikan ini seringkali terlupakan.

    Padahal masjid yang hidup biasanya dipenuhi dengan kajian rutin, kelas Al-Qur’an, pembinaan remaja, dan aktivitas belajar lainnya.

    3. Masjid Sebagai Pusat Jaminan Sosial Umat

    Salah satu fungsi masjid yang paling relevan hingga sekarang adalah sebagai pusat kepedulian sosial.

    Pada masa Rasulullah SAW, bantuan kepada fakir miskin, musafir, dan masyarakat yang membutuhkan banyak dikoordinasikan melalui masjid.

    Tiang Masjid Nabawi yang saat itu dibangun dari batang kurma, oleh para sahabat ditancapi pasak yang berguna sebagai tempat berbagi.

    Baca Juga : Bagaimana Cara Memperbaiki Diri Menurut Islam? 4 Langkah Awal yang Bisa Kamu lakukan!

    Jadi ketika ada sahabat yang mereka punya lauk berlebih dirumah, mereka bawa itu kedalam Masjid Nabawi dan mengaitkannya di pasak tersebut, sehingga sahabat-sahabat yang kekurangan bahan makanan bisa mengambil bahan makanan berlebih tersebut sebagai bahan makanan di rumah.

    Dalam kehidupan modern saat ini, banyak masjid yang belum menerapkan konsep Masjid sebagai Pusat Jaminan Sosial yang fungsinya sebagai bantuan bagi para fakir miskin, dhuafa, musafir yang membutuhkan

    Padahal konsep ini masih bisa diterapkan saat ini melalui berbagai program sosial berbasis masjid.

    Salah satu contohnya adalah program-program yang dijalankan oleh Masjid Muslim Billionaire yang berupaya menjadikan masjid tidak hanya ramai saat shalat, tetapi juga aktif dalam pendidikan, santunan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

    Ketika umat mendukung aktivitas sosial masjid, manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

    4. Masjid Sebagai Pusat Sosial dan Kemasyarakatan

    peran masjid dalam kehidupan umat islam
    Illustrasion By AI

    Banyak orang mengira urusan pemerintahan dan kemasyarakatan dahulu dilakukan di tempat khusus.

    Faktanya, Rasulullah SAW sering bermusyawarah dengan para sahabat di masjid.

    Masjid adalah tempat pertemuan untuk membahas urusan umat, menerima tamu, bahkan sebagai lokasi musyawarah kenegaraan di sana. Di Masjid Muslim Billionaire, fungsi ini diwujudkan melalui layanan seperti pengadaan kelas Seminar dan pusat kegiatan sosial kemasyarakatan.

    Dulu, mulai dari strategi menghadapi tantangan masyarakat, penyelesaian konflik, hingga pembahasan urusan sosial.

    Karena itu peran masjid dalam kehidupan umat Islam tidak hanya berkaitan dengan ibadah pribadi, tetapi juga kehidupan bersama.

    Masjid menjadi ruang yang mempertemukan berbagai kalangan untuk mencari solusi terbaik berdasarkan nilai-nilai Islam.

    5. Masjid Sebagai Pusat Dakwah dan Pembinaan Generasi

    Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa kebangkitan Islam pada masa Rasulullah SAW berawal dari masjid.

    Di sanalah dakwah dilakukan.

    Di sanalah para sahabat dibina.

    Di sanalah generasi muda ditempa menjadi pemimpin umat.

    Ustadz Salim memberikan contoh riwayat dimana Rasulullah SAW membiarkan sahabat untuk menampilkan syair dan tarian tombak khas Afrika di dalam area masjid, yang menunjukkan bahwa masjid adalah ruang yang dinamis.

    Masjid bukan hanya tempat berkumpul orang tua, tetapi juga tempat tumbuhnya generasi muda yang memiliki ilmu dan akhlak.

    Karena itu peran masjid dalam kehidupan umat Islam saat ini juga perlu melibatkan anak muda.

    Kajian remaja, komunitas positif, kelas pengembangan diri, hingga kegiatan sosial dapat menjadi cara efektif untuk mendekatkan generasi muda kepada masjid.

    Bagaimana Peran Masjid dalam Kehidupan Umat Islam Saat Ini?

    Meskipun zaman telah berubah, fungsi dasar masjid sebenarnya tetap sama.

    Masjid masih dapat menjadi:

    • Tempat ibadah dan penguatan iman.
    • Pusat pendidikan Islam.
    • Tempat pembinaan generasi muda.
    • Sarana mempererat ukhuwah.
    • Pusat kegiatan sosial masyarakat.
    • Tempat pengumpulan dan penyaluran sedekah.
    • Pusat dakwah dan syiar Islam.

    Ketika seluruh fungsi ini berjalan, masjid akan kembali menjadi pusat peradaban sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

    Banyak program yang saat ini mulai menghidupkan kembali fungsi tersebut, termasuk melalui gerakan dakwah dan pemberdayaan umat yang dijalankan oleh Masjid Muslim Billionaire bersama masyarakat yang ingin memakmurkan masjid.

    Apa yang Bisa Dilakukan Anak Muda untuk Memakmurkan Masjid?

    Tidak harus menjadi ustadz terlebih dahulu.

    Ada banyak cara sederhana yang bisa dilakukan:

    • Rutin shalat berjamaah di masjid.
    • Mengikuti kajian Islam.
    • Menjadi relawan kegiatan masjid.
    • Mengajak teman menghadiri kegiatan positif.
    • Bersedekah untuk program kemaslahatan umat.
    • Membantu publikasi kegiatan dakwah masjid.

    Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan dampak besar bagi kemakmuran masjid.

    Kesimpulan

    Melihat sejarah Islam, jelas bahwa peran masjid dalam kehidupan umat Islam tidak pernah terbatas sebagai tempat shalat semata.

    Pada zaman Rasulullah SAW, masjid berfungsi sebagai:

    1. Pusat ibadah dan pembentukan keimanan.
    2. Pusat pendidikan dan penyebaran ilmu.
    3. Pusat musyawarah umat.
    4. Pusat kepedulian sosial dan ekonomi.
    5. Pusat dakwah serta pembinaan generasi.

    Jika fungsi-fungsi tersebut kembali dihidupkan, masjid dapat menjadi pusat kemajuan umat sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Rasulullah SAW dan para sahabat.

    Karena itulah memakmurkan masjid bukan hanya tanggung jawab pengurus, tetapi tanggung jawab seluruh umat Islam.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Ada Berapa Rukun Shalat dan Apa Saja? 13, 17 atau 18 Rukun Shalat?

    Ada Berapa Rukun Shalat dan Apa Saja?

    Banyak anak muda Muslim pernah mengalami kebingungan yang sama.

    Saat belajar di sekolah atau kajian, ada yang mengatakan rukun shalat berjumlah 13. Ketika masuk pesantren atau membuka kitab fiqih, ternyata ada yang menyebut 17. Bahkan sebagian sumber lain menuliskan 18 rukun shalat.

    Lalu sebenarnya ada berapa rukun shalat dan apa saja?

    Apakah ada yang salah?

    Atau memang para ulama berbeda pendapat?

    Jawabannya ternyata lebih sederhana dari yang dibayangkan.

    Perbedaan angka tersebut bukan karena para ulama berbeda dalam menentukan kewajiban shalat, melainkan karena cara mereka mengelompokkan dan merinci beberapa rukun di dalamnya.

    Apa yang Dimaksud dengan Rukun Shalat?

    ada berapa rukun shalat dan apa saja
    Illustrasion By AI

    Sebelum membahas jumlahnya, kita perlu memahami apa itu rukun.

    Dalam ilmu fiqih, rukun adalah bagian pokok dari suatu ibadah yang harus ada dan tidak boleh ditinggalkan.

    Jika salah satu rukun shalat sengaja ditinggalkan, maka shalat menjadi tidak sah.

    Berbeda dengan sunnah shalat.

    Jika sunnah tertinggal, shalat tetap sah meskipun kesempurnaannya berkurang.

    Karena itulah pembahasan ada berapa rukun shalat dan apa saja menjadi salah satu materi dasar yang dipelajari dalam fiqih ibadah.

    Allah SWT berfirman:

    “Dan dirikanlah shalat.”
    (QS. Al-Baqarah: 43)

    Sedangkan Rasulullah SAW bersabda:

    “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.”
    (HR. Bukhari)

    Hadits ini menjadi dasar bahwa tata cara shalat harus mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW.

    Mengapa Ada yang Menyebut 13 Rukun Shalat?

    Angka 13 biasanya ditemukan dalam buku pelajaran fiqih dasar, madrasah, atau materi pembelajaran pemula.

    Pada model ini, beberapa rukun yang serupa digabung menjadi satu pembahasan.

    Misalnya thuma’ninah tidak dihitung sebagai rukun yang berdiri sendiri.

    Daftar 13 rukun shalat yang sering diajarkan adalah:

    1. Niat
    2. Takbiratul ihram
    3. Berdiri bagi yang mampu
    4. Membaca Al-Fatihah
    5. Rukuk
    6. I’tidal
    7. Sujud
    8. Duduk antara dua sujud
    9. Duduk tasyahud akhir
    10. Membaca tasyahud akhir
    11. Membaca shalawat Nabi
    12. Salam pertama
    13. Tertib

    Karena dibuat lebih ringkas, angka 13 lebih mudah dihafal oleh pemula.

    Mengapa 17 Rukun Shalat Menjadi Pendapat yang Paling Populer?

    Ketika membahas ada berapa rukun shalat dan apa saja, mayoritas santri NU dan masyarakat Indonesia biasanya mengenal angka 17.

    Angka ini berasal dari kitab-kitab fiqih Syafi’iyah yang sangat populer seperti:

    • Safinatun Najah karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami
    • Fathul Qarib karya Ibnu Qasim Al-Ghazi
    • Kifayatul Akhyar karya Imam Taqiyuddin Al-Hishni

    Dalam kitab-kitab tersebut, rukun shalat dirinci menjadi 17 bagian.

    Daftarnya adalah:

    1. Niat
    2. Takbiratul ihram
    3. Berdiri bagi yang mampu
    4. Membaca Al-Fatihah
    5. Rukuk
    6. Thuma’ninah saat rukuk
    7. I’tidal
    8. Thuma’ninah saat i’tidal
    9. Sujud
    10. Thuma’ninah saat sujud
    11. Duduk antara dua sujud
    12. Thuma’ninah saat duduk antara dua sujud
    13. Duduk tasyahud akhir
    14. Membaca tasyahud akhir
    15. Membaca shalawat kepada Nabi SAW
    16. Salam pertama
    17. Tertib

    Inilah jumlah rukun shalat yang paling banyak diajarkan dalam madzhab Syafi’i.

    Dari Mana Muncul Angka 18 Rukun Shalat?

    Sebagian ulama Syafi’iyyah melakukan perincian yang lebih detail lagi.

    Karena itu muncul angka 18.

    Pada versi ini, terdapat tambahan seperti niat keluar dari shalat atau perincian tertentu yang dipisahkan menjadi rukun tersendiri.

    Contoh yang sering ditemukan:

    1. Niat
    2. Takbiratul ihram
    3. Berdiri
    4. Al-Fatihah
    5. Rukuk
    6. Thuma’ninah rukuk
    7. I’tidal
    8. Thuma’ninah i’tidal
    9. Sujud
    10. Thuma’ninah sujud
    11. Duduk antara dua sujud
    12. Thuma’ninah duduk antara dua sujud
    13. Duduk tasyahud akhir
    14. Membaca tasyahud akhir
    15. Membaca shalawat Nabi
    16. Salam pertama
    17. Niat keluar shalat
    18. Tertib

    Karena itu ketika membaca sumber yang berbeda, jangan terburu-buru menyimpulkan ada pertentangan.

    Hakikat rukun yang dibahas sebenarnya hampir sama.

    Mana yang Benar: 13, 17, atau 18?

    ada berapa rukun shalat dan apa saja
    Illustrasion By AI

    Jika ditanya mana yang benar, jawabannya adalah:

    Semua angka tersebut memiliki dasar penjelasan masing-masing.

    Namun jika merujuk pada kitab-kitab fiqih Syafi’i yang paling banyak dipelajari di Indonesia, maka angka 17 rukun shalat adalah yang paling populer dan paling sering dijadikan rujukan.

    Sedangkan angka 13 merupakan bentuk penyederhanaan pembelajaran.

    Adapun angka 18 berasal dari perincian yang lebih detail terhadap sebagian rukun.

    Jadi ketika seseorang bertanya ada berapa rukun shalat dan apa saja, jawaban yang paling aman adalah:

    Dalam madzhab Syafi’i yang umum dipelajari di Indonesia, rukun shalat berjumlah 17.

    Bedanya Rukun dan Sunnah Shalat

    ada berapa rukun shalat dan apa saja
    Illustrasion By AI

    Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah mencampuradukkan rukun dengan sunnah.

    Misalnya membaca doa iftitah.

    Doa iftitah sangat dianjurkan, tetapi bukan rukun.

    Begitu pula membaca surat pendek setelah Al-Fatihah.

    Sunnah ini sangat baik dilakukan, namun jika terlupa maka shalat tetap sah.

    Berbeda dengan Al-Fatihah.

    Jika Al-Fatihah tidak dibaca pada shalat fardhu, maka shalat menjadi tidak sah menurut mayoritas ulama.

    Karena itu memahami perbedaan rukun dan sunnah jauh lebih bermanfaat dibanding sekadar menghafal jumlahnya.

    Baca Juga : Mengapa Hati Tidak Tenang Menurut Islam? Ini 1 Cara Mengatasi Penyebabnya

    Belajar Fiqih Shalat dan Kepedulian Sosial

    Menariknya, semakin seseorang mendalami fiqih ibadah, biasanya semakin tumbuh kesadaran untuk memperbaiki amal lainnya.

    Tidak hanya shalat, tetapi juga sedekah, membantu sesama, dan mendukung dakwah Islam.

    Semangat inilah yang terus dihidupkan melalui berbagai program pendidikan, santunan yatim, pemberdayaan umat, dan dakwah yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire.

    Karena Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah kepada Allah dan kepedulian terhadap sesama manusia.

    Kesimpulan

    Jadi, jawaban dari pertanyaan ada berapa rukun shalat dan apa saja adalah:

    • 13 rukun shalat muncul dalam metode pembelajaran yang lebih ringkas.
    • 17 rukun shalat merupakan pendapat yang paling populer dalam madzhab Syafi’i.
    • 18 rukun shalat muncul karena sebagian ulama merinci beberapa rukun secara lebih detail.

    Perbedaan angka tersebut bukan perbedaan hukum, melainkan perbedaan cara menjelaskan.

    Bagi mayoritas Muslim Indonesia yang mengikuti pembelajaran fiqih Syafi’i, jumlah rukun shalat yang paling umum digunakan adalah 17 rukun shalat.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520

  • Apakah Boleh Menggabungkan Puasa Qadha dengan Puasa Asyura? Ini Penjelasan Ulama 

    Menjelang datangnya bulan Muharram, tidak sedikit Muslim yang memiliki pertanyaan serupa.

    “Saya masih punya utang puasa Ramadhan. Ketika puasa Asyura datang, apakah saya harus qadha dulu atau boleh digabung?”

    Pertanyaan ini sangat wajar.

    Apalagi banyak anak muda yang baru sempat mengganti puasa Ramadhan ketika memasuki bulan-bulan setelah Idul Fitri.

    Akibatnya, saat tanggal Asyura tiba, muncul kebingungan mengenai apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura dalam satu hari.

    Kabar baiknya, persoalan ini sudah banyak dibahas oleh para ulama fiqih dan terdapat penjelasan yang cukup jelas mengenai hukumnya.

    Hukum Menggabungkan Puasa Qadha dengan Puasa Asyura

    apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa asyura
    Gambar Ilustrasi

    Mayoritas ulama menjelaskan bahwa menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura diperbolehkan.

    Artinya, seseorang dapat berpuasa pada tanggal Asyura dengan niat utama mengganti puasa Ramadhan yang masih menjadi tanggungan.

    Karena puasa tersebut bertepatan dengan hari Asyura, ia juga berpeluang mendapatkan keutamaan puasa Asyura.

    Dalam mazhab Syafi’i, konsep ini dikenal sebagai tasyrik an-niyyah, yaitu bertepatan antara ibadah wajib dan ibadah sunnah sehingga seseorang dapat memperoleh pahala keduanya.

    Ketika membahas apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, mayoritas ulama kontemporer juga cenderung membolehkan selama niat utamanya adalah menunaikan kewajiban qadha Ramadhan.

    Dalil Tentang Kewajiban Qadha Puasa

    Allah SWT berfirman:

    “Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”

    (QS. Al-Baqarah: 184)

    Ayat ini menunjukkan bahwa puasa qadha memiliki kedudukan sebagai kewajiban yang harus ditunaikan.

    Karena itu sebagian ulama bahkan menilai bahwa menggabungkan puasa qadha dengan puasa sunnah merupakan pilihan yang baik karena kewajiban tetap terlaksana.

    Ketika seseorang bertanya apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, maka kewajiban qadha tetap menjadi prioritas utama yang harus dipenuhi.

    Bagaimana Pendapat Ulama Syafi’iyyah Tentang Puasa Qadha dan Puasa Asyura Sekaligus?

    Ketika membahas apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, ternyata para ulama Syafi’iyyah memiliki dua pandangan yang cukup dikenal.

    Hal ini juga dijelaskan oleh Ustadz M. Mubasysyarum Bih dari Pondok Pesantren Raudlatul Qur’an Cirebon dalam kajian yang ditayangkan di Youtube oleh channel NU Online.

    Pendapat Pertama: Tidak Diperbolehkan

    Sebagian ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa puasa qadha Ramadhan dan puasa Asyura tidak bisa digabung dalam satu niat.

    Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Al-Asnawi.

    Menurut pandangan ini, puasa qadha Ramadhan dan puasa Asyura merupakan dua ibadah yang berdiri sendiri (maqshudah li dzatiha), sehingga masing-masing memiliki tujuan tersendiri yang tidak bisa disatukan.

    Analogi yang sering digunakan adalah shalat wajib dengan shalat sunnah qabliyah.

    Keduanya merupakan ibadah yang berbeda dan masing-masing memiliki tujuan khusus, sehingga tidak dapat dilebur menjadi satu pelaksanaan.

    Berdasarkan pendapat ini, seseorang yang ingin memperoleh pahala qadha Ramadhan dan pahala puasa Asyura secara sempurna dianjurkan melaksanakan keduanya secara terpisah.

    Pendapat Kedua: Diperbolehkan dan Menjadi Pendapat yang Lebih Kuat

    Pendapat kedua merupakan pendapat yang lebih umum digunakan dan dianggap lebih kuat dalam madzhab Syafi’i.

    Menurut pendapat ini, menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura hukumnya diperbolehkan.

    Para ulama yang membolehkan melihat bahwa puasa Asyura memiliki karakter yang mirip dengan shalat Tahiyyatul Masjid.

    Sebagaimana seseorang yang masuk masjid lalu melaksanakan shalat qabliyah Subuh sekaligus mendapatkan pahala Tahiyyatul Masjid, maka seseorang yang berpuasa qadha tepat pada tanggal 10 Muharram juga dapat memperoleh pahala puasa Asyura.

    Artinya, kewajiban qadha Ramadhan tetap terlaksana dan pada saat yang sama ia juga mendapatkan keutamaan karena puasanya bertepatan dengan hari Asyura.

    Dalam praktiknya, seseorang cukup berniat puasa qadha Ramadhan. Tidak harus membuat dua puasa yang berbeda dalam satu hari.

    Qadha Ramadhannya sah dan ia diharapkan tetap memperoleh pahala sunnah Asyura.

    Kesimpulan yang Dapat Diambil

    Dari dua pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa persoalan ini memang termasuk wilayah ijtihadiyyah yang memiliki dasar argumentasi masing-masing.

    Pendapat pertama memilih untuk memisahkan antara puasa qadha dan puasa Asyura.

    Sedangkan pendapat kedua membolehkan penggabungan keduanya dalam satu hari dan menjadi pendapat yang lebih banyak diikuti dalam madzhab Syafi’i.

    Karena kedua pendapat memiliki landasan ilmiah yang kuat, maka sikap terbaik adalah saling menghormati pilihan yang diambil oleh kaum Muslimin.

    Bagi yang memilih memisahkan qadha dan Asyura, hal itu diperbolehkan.

    Bagi yang memilih menggabungkannya karena mengikuti pendapat yang membolehkan, hal itu juga diperbolehkan menurut banyak ulama Syafi’iyyah.

    Bagaimana Cara Menjalankan Puasa Qadha dan Puasa Asyura Secara Bersamaan?

    apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa asyura
    Gambar Ilustrasi

    Ini bagian yang paling sering dicari setelah mengetahui hukumnya.

    Jika ingin menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, langkahnya cukup sederhana.

    Niatkan puasa sebagai qadha Ramadhan.

    Karena qadha merupakan ibadah wajib, maka niat wajib lebih diutamakan dibandingkan niat sunnah.

    Dengan kata lain, seseorang tidak perlu membuat dua puasa yang berbeda dalam satu hari.

    Cukup menjalankan satu puasa qadha yang kebetulan bertepatan dengan hari Asyura.

    Inilah cara yang paling sering dijelaskan ketika membahas cara menjalankan puasa qadha dan puasa Asyura secara bersamaan.

    Bagaimana Dengan Niatnya?

    apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa asyura
    Ilustrasi kalender Puasa Asyura – Generate By AI

    Pertanyaan berikutnya adalah mengenai niat.

    Apakah harus menyebut dua niat sekaligus?

    Mayoritas ulama menjelaskan bahwa niat qadha Ramadhan sudah mencukupi.

    Contoh niatnya adalah niat qadha puasa Ramadhan sebagaimana biasa dilakukan.

    Karena yang menjadi tujuan utama adalah menggugurkan kewajiban puasa yang masih tertinggal.

    Baca Juga : Keutamaan Puasa Asyura dan Tasu’a: Amalan Istimewa di Bulan Muharram yang Jangan Dilewatkan

    Sedangkan pahala Asyura diharapkan datang karena puasanya bertepatan dengan hari Asyura.

    Oleh sebab itu, ketika membahas apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura, fokus utama niat tetap diarahkan kepada qadha Ramadhan.

    Apakah Hukum Ini Berlaku Untuk Puasa Sunnah Lainnya?

    Menariknya, pembahasan hukum menggabungkan puasa qadha dan puasa sunnah lainnya tidak hanya terjadi pada puasa Asyura.

    Para ulama juga membahas kasus serupa pada:

    • Puasa Senin Kamis
    • Puasa Arafah
    • Puasa Ayyamul Bidh
    • Puasa enam hari Syawal

    Secara umum, banyak ulama membolehkan penggabungan tersebut selama niat utamanya adalah puasa wajib.

    Karena itu prinsip yang digunakan pada puasa Asyura sering kali juga diterapkan pada puasa sunnah lainnya.

    Mana yang Lebih Utama, Digabung atau Dipisah?

    Jika ditanya mana yang lebih utama, sebagian ulama menjelaskan bahwa memisahkan antara qadha dan puasa sunnah dapat memberikan pahala yang lebih sempurna.

    Namun kondisi setiap orang berbeda.

    Ada yang masih memiliki banyak utang puasa Ramadhan.

    Ada juga yang khawatir tidak sempat mengqadha sebelum Ramadhan berikutnya datang.

    Dalam kondisi seperti ini, menggabungkan qadha dengan Asyura sering menjadi solusi yang sangat membantu.

    Karena itu jangan sampai seseorang meninggalkan qadha hanya karena terlalu lama menunggu waktu yang dianggap ideal.

    Puasa, Sedekah, dan Momentum Muharram

    Muharram sering menjadi momen bagi banyak Muslim untuk memperbanyak amal.

    Selain berpuasa, sebagian umat Islam juga memperbanyak sedekah dan kegiatan sosial.

    Semangat berbagi ini juga terus dihidupkan melalui berbagai program yang dijalankan oleh Baitul Maal Masjid Muslim Billionaire, mulai dari santunan yatim, dakwah, pendidikan Islam, hingga bantuan kemanusiaan.

    Karena pada akhirnya, bulan-bulan mulia menjadi kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah sekaligus memperluas manfaat bagi sesama.

    Kesimpulan

    Jadi, jawaban dari pertanyaan apakah boleh menggabungkan puasa qadha dengan puasa Asyura adalah boleh menurut mayoritas ulama.

    Seseorang dapat menjalankan puasa qadha Ramadhan pada hari Asyura dengan niat utama mengganti puasa wajib yang masih tertinggal.

    Puasa qadhanya sah dan ia tetap berpeluang mendapatkan pahala karena bertepatan dengan hari Asyura.

    Jika memiliki kesempatan yang luas, memisahkan qadha dan puasa sunnah bisa menjadi pilihan yang lebih sempurna.

    Namun jika ingin menggabungkannya, hal tersebut dibolehkan dan telah dijelaskan oleh banyak ulama fiqih.

    Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk menunaikan kewajiban qadha Ramadhan sekaligus menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.

    Kontak Media:

    Instagram : @masjidmuslimbillionaire
    Facebook : Masjid Muslim Billionaire
    Youtube : Masjid Muslim Billionaire
    Whatsapp : +628528542520